Another Vampire Story


Kota Baru

Hari ini adalah hari ketiga aku tinggal di kota ini. Boulevard, sebuah kota kecil di bagian utara Gregory, kota yang tenang, sejuk dan damai. Semuanya benar-benar berbeda, kota ini. Jauh berbeda dengan Orthern, kota asalku, yang bising, penuh polusi, tindak kriminal dan sepanjang waktu selalu ramai, kota yang tak pernah mati. Aku lega dan senang bisa pindah ke kota ini. Meski awalnya aku sempat menolak.

Udaranya benar-benar sejuk, terasa begitu menyenangkan saat memasuki kantung-kantung udara dalam paru-paruku. Yang seperti ini takkan ku dapatkan di Orthern, meski sama-sama paginya. Yeah...semoga saja penduduk kota ini tak seperti penduduk Orthern, sangat individualis dan bergaul hanya dengan orang-orang yang ‘sekelas’ saja. Tapi meski begitu, aku punya teman di sana, meski hanya beberapa, tapi itu cukup berarti untuk membuat ku bertahan di kota itu.

Kukayuh sepedaku dengan semangat menuju sekolah baruku. Bukan sekolah baru, sih, sebenarnya. Karena gedungnya sudah sangat tua. Model bangunannya sangat kuno, mungkin umurnya sudah ratusan tahun, dindingnya saja sudah menghitam dan lapuk saking tuanya. Tapi itu sekolah terbaik di kota ini, karena sekolah itu adalah satu-satunya sekolah yang ada di kota kecil ini. Yeah, Boulevard High School, sekolah tua yang cukup keren menurutku, walau masih jauh kalau di bandingkan dengan Orthern High School.

Setelah melapor ke kantor Kepala Sekolah, aku diantar ke kelasku oleh wali kelasku sendiri, Mrs. Joanne. Kelasku berada di ujung utara lantai tiga, kelas 9-7. Repot juga kalau setiap hari harus naik turun sejauh ini. Tapi mungkin itu belum seberapa, mengingat sekolah ini cukup luas. Dan sepertinya aku akan betah.

“Selamat pagi, anak-anak!” sapa Mrs. Joanne.

“Selamat pagi, Mrs. Joanne!”

“Hari ini kelas kita kedatangan murid baru. Dia pindahan dari Orthern. Ayo, nak, perkenalkan diri mu!” kata Mrs. Joanne.

“Hai! Namaku Jack Antonio Alberto De Carlo, panggil saja aku Jack. Aku pindahan dari Orthern High School, baru tiba tiga hari yang lalu.....Oh ya, aku suka drama.....dulu aku aktif di klub drama. Er...aku harap....aku bisa cepat beradaptasi, terima kasih...” kataku gugup.

“OK, Jack, sekarang kau boleh duduk dibangku kosong disebelah sana,” perintah Mrs. Joanne sambil menunjuk bangku kosong dipojok kiri belakang, tepat di samping jendela.

Begitu duduk, seorang anak cowok dengan rambut hitam panjang buntut kuda yang duduk di samping kananku menyapa, “Hai, aku Shane Ritcher”.

“Aku Matthew Millicons, panggil aku Matt,” kata anak cowok kurus berambut pirang pendek yang duduk di dapan Shane.

“Salam kenal,” balasku sambil tersenyum ramah.

“Namamu panjang sekali, dan terdengar seperti orang asing, kau bukan orang asli Gregory, ya?” tanya Matt, “Rambutmu saja berwarna merah menyala begitu, kau mengingatkanku pada....”

“Tadi kau bilang kau pernah ikut klub drama?” sela Shane.

“Benar, kenapa?”

“Aku dan Matt juga, di klub ini kami adalah penulis naskahnya. Er...kau tahu? Kami akan mementaskan drama unutuk Halloween nanti, tapi....kami masih mencari pemeran untuk tiga tokoh utamanya. Bagaimana kalau kamu ikut seleksinya? Aku yakin pasti menarik!” kata Shane.

“Aku...ikut seleksi? Tapi……”

“Tenang saja, seleksinya tidak terlalu sulit, kok. Lagipula, Halloween masih lima minggu lagi, kan? Kau tak perlu khawatir, ikut saja, pasti menyenangkan,” sahut Matt.

“Er….benar juga. Baiklah, akan kucoba!”

“Ehem,ehem, saya harap bicaranya nanti saja setelah pelajaran. Kuharap kalian mengerti untuk tidak mengganggu pelajaranku!” seru Mrs. Joanne tiba-tiba, membuat aku, Shane dan Matt terkejut dan langsung berhenti bicara.

“Hei, hati-hati, Mrs. Joanne memang baik, tapi dia sangat disiplin,” bisik Shane.

***

Hari pertama sekolah benar-benar melelahkan. Aku harus berkenalan dengan setiap orang yang kutemui. Dan yang paling mengesalkan adalah cewek-cewek centil di kelasku sendiri. Mereka terlalu agresif dan berisik, bertanya macam-macam dengan sangat cepat sampai-sampai aku tak bisa mendengar semua pertanyaan mereka.....Tapi, dari semua itu, aku senang. Semuanya sesuai harapanku, mereka semua menerimaku dengan senang hati. Apalagi saat mendengar namaku disebutkan. Sepertinya mereka semua suka orang asing. Meski beberapa diantara mereka ada yang terlihat terkejut dan takut saat mendengar namaku. Aneh memang, tapi biar saja. Yang penting semua orang menerimaku dengan senang hati, itu sudah lebih dari cukup.

Hmm.....aku jadi ingin cepat pulang dan bercerita pada Mom. Eh, bagaimana dengan Lunar, ya? Kami, kan satu angkatan, kenapa tidak satu kelas? Entahlah, tapi seharian ini aku sama sekali tidak bertemu dengannya. Lagipula, dia, kan, berangkat ke sekolah diantar oleh Dad. Aku juga tidak tahu di mana kelasnya. Dan...kenapa juga aku harus peduli padanya?

“Hei Jack, tunggu kami!” teriak seseorang dari belakang membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan melihat Shane dan Matt mengejarku dengan sepeda mereka.

“Oh, kalian, ada apa?”

“Kau belum memberitahu kami dimana rumahmu,” kata Shane cepat.

“Oh, ya ampun! Kenapa aku bisa lupa?!” seruku, “Er…..rumahku di Chronicles nomor empat.”

Shane dan Matt tampak terkejut begitu mendengar jawabanku. Senyum mereka mendadak menghilang dan wajah mereka tampak gugup dan pucat. Mereka menghentikan sepeda mereka dan menatap kosong ke arahku, “Hei, kenapa kalian?” tanyaku khawatir, aku ikut menghentikan sepedaku.

“Er....kau bilang....alamatmu di....di Chronicles nomor empat?” Matt balik bertanya dengan gugup.

“Iya, memangnya kenapa?”

“Rumah itu....rumah itu.....”

“Rumah itu adalah rumah yang sangat tua,” potong Shane, “Kau tahu? Rumah antik....dan yang sepeti itu sudah cukup langka di kota ini. Rumah yang hebat, kau tahu?”

Matt menatap Shane dengan mulut terbuka, seakan Shane baru saja mengatakan hal yang menakutkan, “Kau kenapa Matt?” tanyaku.

“Tidak apa-apa,” kata Shane sebelum Matt sempat menjawab, “Dia hanya ingin cepat pulang, iya, kan Matt?” katanya sambil melirik Matt.

“I...iya, itu benar...” jawab Matt gugup.

“Oh...begitu,” kataku lega, “Kalau begitu sampai jumpa besok, ya! Daah!” seruku sambil mulai mengayuh sepedaku.

“Sampai jumpa besok, Jack!” balas Shane, “Kapan-kapan kami akan main ke rumahmu!”

***

Garasi masih kosong saat aku sampai, berarti Dad belum pulang. Yeah, pekerjaan Dad, kan, memang tidak punya jam kerja yang tetap. Tidak jarang Dad menginap di tempat kerjanya. Jadi, tak masalah, ini justru lebih baik. Aku langsung naik ke kamar karena di bawah tak ada siapa pun. Bahkan sepertinya Lunar juga belum kembali.

Rumah baruku ini memang tidak bisa disebut rumah baru. Seperti kata Shane, rumah ini adalah rumah tua. Bangunannya tinggi dan modelnya sangat kuno. Hampir seluruhnya terbuat dari kayu Oak merah yang kokoh, tapi sudah mulai rapuh dan warnanya memudar. Setiap menaiki atau menuruni tangga, kayunya akan berderit. Begitu juga dengan pintu-pintunya, jendelanya juga, semuanya mengeluarkan bunyi derit, seperti kakek-kakek yang sudah tua dan ringkih.

Meski begitu, aku sangat suka rumah ini. Suasananya nyaman dan tenang, walau tak seperti rumahku di Orthern yang penuh dengan barang-barang elektronik dan modern. Semua yang ada di rumah ini tua dan kuno, tapi tampak antik dan elegan. Benar-benar rumah yang keren.

Dan tempat yang paling kusuka di rumah ini adalah kamarku sendiri, meski sedikit menjengkelkan karena harus bersebelahan dengan Lunar. Suasananya berbeda dengan semua ruangan yang ada di rumah ini. Aku tidak tahu apa yang aneh, tapi setiap kali berada di dalam kamar ini, rasanya perasaanku sangat tenang. Udara di dalam kamar ini lebih sejuk dari ruangan lainnya. Apalagi tepat di belakang kamarku ada sebuah sungai kecil mengalir dan sebuah hutan kecil yang hijau dengan sebuah bukit menjulang di ujung timurnya. Pemandangan yang takkan kudapatkan di sisi manapun dari Orthern.

Kulempar ranselku ke meja di sudut ruangan dan kuhempaskan tubuhku diatas ranjang tuaku, menatap langit-langit yang tampak menguning dan mulai mengelupas. Aku jadi teringat kejadian beberapa hari yang lalu, saat Dad mengatakan untuk pindah ke kota ini. Saat itu, aku bersikeras menolak. Aku tidak mau pindah dengan alasan apa pun. Aku mengamuk dan Dad marah besar. Dia menendangi dan memukuliku dengan keras beberapa kali. Yeah...hubungan kami memang tidak pernah baik sejak dulu. Dad selalu melarang apapun yang ingin kulakukan, termasuk main drama. Dan aku selalu melanggar larangannya, karena semua yang dia larang adalah hal yang kusuka. Apapun yang kulakukan selalu salah di matanya. Hampir setiap malam dia memukulku hanya karena aku ikut latihan drama dan pulang saat makan malam. Dan yang membuatku sangat kesal, semua itu tidak berlaku bagi Lunar. Memang, dia lebih penurut dan pintar dariku. Dia melakukan apapun yang Dad perintahkan dan menjauhi apapun yang dilarangnya. Tapi menurutku, dia lebih seperti boneka yang dikendalikan oleh Dad, dia melakukan segalanya bukan atas kehendak dirinya sendiri, melainkan kehendak Dad. Bahkan kursus biola, balet dan masih banyak lagi, dia lakukan atas ‘usulan’ Dad, bukan keinginanya sendiri.

Kembali ke masalah pindah kota. Meskipun Orthern adalah kota metropolitan yang buruk-dengan segala polusi, kriminal dan kekacauannya yang tiada henti, yang sejujurnya aku sendiri tidak tahan tinggal di sana, tapi itu adalah kota kelahiranku. Dan walau hanya sedikit, aku punya teman-teman yang membuatku bisa bertahan, apalagi seminggu lagi aku akan mementaskan drama. Semuanya sudah siap, latihan sudah sangat lancar, bahkan kostum dan yang lainnya sudah beres. Aku sangat keberatan untuk pindah, meninggalkan teman-temanku, meninggalkan dramaku, meninggalkan semua yang menyenangkan yang ada di Orthern.

Aku mengurung diri di kamar seharian, memikirkan hal paling buruk yang Dad putuskan selama ini, yaitu pindah dari Orthern. Aku benar-benar tidak bisa menerima keputusan ini. Tapi setelah Mom membujukku, akhirnya aku luluh juga. Memang, sebagai Arkeolog pemerintah, dia harus mau bila ditempatkan di mana saja, termasuk di Boulevard ini. Yeah, ituah resikonya menjadi pegawai pemerintah. Harus selalu menuruti apa pun yang diperintahkan. Dan dengan segudang rasa kecewa, mau tidak mau aku ikut pindah ke kota ini.

Lamunanku terhenti karena aku mendengar sebuah suara yang muncul tiba-tiba. Kutajamkan telingaku agar bisa mendengar lebih jelas, dan samar-samar aku mendengar suara isak tangis, suaranya terdengar seperti suara cowok seumuranku, semakin lama suara tangisan itu semakin keras. Bahkan bukan hanya suara tangisan, tapi juga terdengar suara kayu bergetar. Sepertinya suara itu berasal dari lemari pakaian yang ada di depan pintu, lemari itu tampak bergetar pelan. Kudekati lemari itu pelan-pelan, suara tangisan dan bunyi getaran lemarinya itu terdengar makin jelas. Sesaat aku mematung di depan lemari, kudekatkan telingaku untuk memastikan aku tidak salah dengar.

Tiba-tiba lemarinya berhenti bergetar. Tapi suara tangisannya masih terdengar, dan semakin keras. Kupegang gagang pintunya dengan tangan kananku yang entah sejak kapan mulai gemetar. Dan tiba-tiba...Brak!!

Pintu kamarku terbuka dengan cepat, hingga bunyi deritnya tak terdengar dan hanya terdengar bunyi benturannya dengan dinding saja. Aku terkejut dan terjatuh menjauhi pintu. Tapi aku jadi malu dan bingung saat melihat Mom berdiri di depan pintu kamar, memandang ku dengan heran.

“Jack, ada apa? Aku mendengar kau menangis, memangnya kenapa?” tanya Mom dengan kening berkerut.

“Menangis? Er...tidak, aku tadi sedang....aku sedang.....bersih-bersih....Mom pasti salah dengar...” kata ku gugup sambil tersenyum bodoh.

“Bersih-bersih? Bukannya kemarin kamarmu sudah selesai dibersihkan?” tanya Mom makin heran.

“Begitu, ya? Jadi...sudah dibersihkan....” kataku bingung.

Mom mengangkat bahunya dan berkata, “Kurasa lebih baik kau turun. Waktunya makan malam, semua sudah berkumpul di ruang makan. Ayo!” Mom meninggalkanku dan turun ke ruang makan. Aku segera berdiri dan menyusulnya, dan sebelum keluar, kusempatkan untuk melirik lemari pakaianku yang sudah berhenti bersuara. Hmm....apa yang barusan terjadi, ya?

***

“Bagaimana sekolahmu hari ini, cantik?” tanya Dad pada Lunar yang duduk di sebelah kanannya, sambil tersenyum, tanpa menoleh padaku yang duduk di sebelah kirinya.

Lunar melirik padaku sambil tersenyum sinis dan berkata, “Sangat menyenangkan Dad...semuanya baik padaku. Dad sendiri?” dengan suara sok manisnya yang membuatku jijik.

“Kami sudah mulai melakukan penggalian di Gunung Incantius, kami yakin kami akan mendapatkan sesuatu yang menarik,” kata Dad.

“Aku senang kalau kau senang di sini, dan kuharap kau akan betah,” kata Dad, sekali lagi tanpa menoleh padaku. Aku melirik Mom yang ternyata sedangmenatapku, dia lalu tersenyum padaku. Aku tahu dia sedang mencoba menghiburku, jadi aku membalas senyumannya.

***

Usai makan malam aku langsung kembali ke kamar, begitu juga dengan Lunar, sementara Mom dan Dad menonton televisi di ruang keluarga. Rasanya lelah sekali hari ini, aku ingin segera tidur dan mimpi indah. Tapi sebelum aku masuk ke kamar, Lunar, yang sudah membuka pintu kamarnya, menutupnya kembali dan memutar badannya menghadapku. Bisa kutebak apa yang akan dikatakannya saat senyum sinisnya muncul lagi.

“Kau memang payah. Kau tak pantas menjadi bagian dari keluarga ini,” katanya, “Kau lihat? Dad tidak pernah menyukaimu, tapi dia selalu menyukaiku, selalu...” dan dengan gaya yang memuakkan dia masuk ke dalam kamarnya. Aku segera masuk ke kamar. Aku sudah terlalu terbiasa dengan hal ini. Tapi entah kenapa, kali ini aku merasakan sedikit sesak di dadaku.

Ah, kenapa memikirkan itu? Lebih baik segera tidur karena sekarang aku benar-benar lelah dan besok aku harus ke sekolah. Biarkan saja cewek centil itu berbuat sesukanya. Tak perlu dipedulikan. Da entah kapan aku tertidur, tapi rasanya begitu singkat, karena diganggu oleh suara aneh seperti semalam yang tiba-tiba muncul lagi. Tangisan anak cowok diiringi bunyi kayu bergetar. Aku penasaran, sebenarnya suara apa itu? Pelan-pelan kudekati lemari pakaianku. Hmm...kali ini suaranya terdengar lebih keras. Kuulurkan tangan kananku, saat aku mencapai gagang pintunya, tiba-tiba terdengar Mom berteriak memanggilku. Aku agak terkejut dan melepaskan tanganku, tapi jadi sedikit kesal karena suara itu sudah hilang lagi.

“Jack, cepat turun! Waktunya sarapan!” seru Mom.

“Aku segera datang, Mom!” seru ku. Aku segera berlari ke bawah, mencuci muka sebentar dan langsung ke ruang makan.

“Mana Dad dan Lunar?” tanya ku saat kudapati meja makan kosong.

“Mereka sudah berangkat, kau tidur nyenyak sekali,” kata Mom, “Ayo cepat sarapan dan berangkat. Memangnya kau tidak tahu ini jam berapa?”

Aku mengernyit dan melirik jam tanganku, mata ku terbelalak saking kagetnya, “Jam setengah delapan?!” seruku tak percaya. Aku sarapan secepat yang kubisa dan segera berangkat setelah mengganti pakaian.

***

“Pagi Jack!” sapa Matt begitu aku tiba di kelas, “Kau tampak kelalahan...” katanya heran melihatku sedikit terengah-engah.

“Pagi Matt!” sahutku, “Aku baru saja menempuh perjalanan dari rumah ke sini dalam waktu sepuluh menit, sedikit melelahkan.”

“Sepuluh menit?!” seru Matt heran, “Rumahmu, kan, di......”

Mendadak Matt berhenti bicara, dan setelah beberapa detik dia kembali bicara, “Jack, kemarin.....kau bilang rumahmu di Chronicles nomor empat...ya, kan?” dengan nada yang mendadak menjadi pelan.

“Benar, memangnya kenapa?”

“Rumah itu...berhantu Jack,” kata Matt nyaris berbisik, “Sudah banyak keluarga yang tinggal di situ dan hanya bertahan beberapa hari. Yang terakhir hanya sampai satu bulan, itu pun terjadi setengah tahun yang lalu....”

Kulihat wajah Matt menjadi pucat dan berkeringat, “Hantu itu mengganggu mereka, meneror mereka hingga mereka meninggalkan rumahnya. Lebih baik tinggalkan rumah itu sebelum terjadi apa-apa pada keluargamu, kau harus segera...”

“Kau bicara apa, sih?” potongku, “Hal seperti itu tidak pernah ada!” Matt tampak ketakutan mendengar ucapanku. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi mulutnya terkunci.

“Pagi semua!” sapa Shane yang tiba-tiba muncul, “Kenapa kalian tegang begini?”

“Ini, Matt bilang kalau rumahku berhantu, dia pikir aku akan percaya dan ketakutan?” kataku sambil menahan tawa.

Shane agak terkejut, tapi dia tersenyum dan berkata, “Jangan dengarkan dia, dia ini memang seperti itu, suka bercanda. Benar, kan, Matt?” tanya Shane dengan senyum lebar di wajahnya.

Matt mengernyitkan keningnya dan menjawab dengan gugup, “I...iya, kau benar....aku hanya bercanda, kok....maaf, ya, Jack....”

“Tidak apa-apa, kau tidak salah, kok,” kataku. Dan percakapan kami terhenti karena Mr. Levrant tiba dan memulai pelajaran Fisikanya.

***

“Jack, yang kukatakan tadi pagi adalah benar, bukan bercanda!” seru Matt saat makan siang, Shane tidak ikut karena sedang mencari bahan untuk tugasnya di perpustakaan, “Rumahmu memang berhantu! Aku tidak bohong! Ini serius, Jack!”

“Sudahlah Matt, kita tidak perlu membicarakan hal itu lagi. Hentikan itu sebelum aku kehilangan selera makan, OK?!” kataku tegas. Matt langsung terdiam dan tak berani berkata apa-apa lagi.

Setelah diam beberapa saat akhirnya aku bertanya padanya, “Oh ya, kapan seleksinya dilaksanakan?”

“Er...seleksinya dilaksanakan besok malam, di sini....maksudku, di sekolah ini,” jawab Matt gugup, “Sebelum jam sembilan semua harus sudah berkumpul di gedung Teater.”

“Dua hari lagi, ya?” gumamku, “Memangnya.....seleksinya seperti apa, sih?”

“Itu rahasia, Jack. Aku tidak boleh memberitahukannya pada siapa pun, termasuk kau. Yeah....tidak sulit, kok. Aku yakin kau pasti bisa. Kau, kan, pernah ikut klub drama,” kata Matt, bicaranya lebih santai dan lancar.

“OK, terserah kau saja, tapi waktu istirahatnya sudah habis. Ayo kembali ke kelas!”

***

“Mom, aku pulang!” seruku begitu memasuki rumah, tapi tak ada yang menyahut, “Mom?! Lunar?!” seruku lagi. Aku berjalan ke dapur dan tak menemukan siapa pun. Tapi saat akan naik, aku menemukan selembar kertas berisi pesan dari Mom tertempel di dinding di atas telephone.

“Aku dan Lunar sedang pergi ke kota untuk belanja, mungkin akan pulang agak malam. Ada spaghetti di kulkas untuk makan malam, hangatkan saja di microwave. Salam sayang, Mom.”

Hmm.....sampai malam, ya? Dad juga sepertinya pulang malam lagi. Ah, sudahlah, lebih baik naik ke kamar dan tiduran sebentar sebelum makan malam. Tapi....sepertinya tidak bisa, karena begitu masuk kamar suara itu muncul lagi, suara tangisan diiringi bunyi kayu bergetar. Dan kali ini lebih keras. Bahkan lemari pakaian ku bergoyang-goyang.

Aku segera melempar ranselku ke ranjang dan mendekati lemari. Tapi begitu tanganku memegang gagang pintunya, suara tangisan itu berhenti. Begitu juga lemarinya, berhenti bergoyang. Sebenarnya ada apa dengan lemari ini? Yang jelas ada sesuatu di dalamnya, harus kuperiksa. Aku segera membuka pintu lemarinya. Dan tidak ada hal aneh yang kutemukan di dalamnya. Hanya ada tumpukan pakaianku saja.

Karena tak menemukan apa-apa, aku kembali ke ranjang dan merebahkan rubuhku. Menatap langit-langit yang sudah menguning dan lapuk, memikirkan hal aneh yang terjadi sejak kemarin. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Tapi yang pasti, ada sesuatu di dalam lemari itu, dan aku harus menemukannya. Tapi mungkin lain kali saja, karena rasanya saat ini lebih baik aku tidur.


Yang Tak Terduga dan Tak Terlihat

Aku terbangun oleh sorot matahari yang masuk melalui celah jendelaku. Dan dalam keadaan setengah sadar, suara itu mulai terdengar lagi, suara tangisan dan bunyi kayu bergetar. Aku langsung berdiri dan berjalan ke arah lemari. Kali ini harus berhasil, apapun yang ada di dalam lemari itu harus kutemukan.

Lemari itu tampak bergetar pelan, sementara bunyi tangisannya terdengar makin pelan. Tangan kanan ku siap untuk membuka pintunya. Dan begitu pintunya terbuka, lemari itu berhenti bergetar. Tapi suara tangisannya masih terdengar, dan sepertinya berasal dari bagian bawah lemari. Kudekatkan kepala ku untuk memastikan. Dan memang benar, suara itu berasal dari situ. Ada sebuah laci di dasar lemari dan suara tangisan itu terdengar dari situ. Kutarik laci itu sekuat tenaga, tapi laci itu sulit terbuka, sepertinya sudah lama sekali laci ini tidak dibuka.

Kucoba sekali lagi dan belum berhasil, hanya tertarik beberapa senti. Dan pada usaha ketiga, aku menariknya sekuat tenaga, akhirnya laci itu terbuka juga. Yang membuat ku sedikit heran adalah, suara tangisannya berhenti begitu lacinya terbuka. Tapi aku tak menghiraukannya karena bagian dalam laci lebih menarik. Ada sebuah album foto usang, buku harian dan piagam penghargaan. Kukeluarkan semuanya dan kuperiksa satu per satu.

Pertama piagamnya...wow, dari Walikota! Penghargaan untuk Pemain Drama Terbaik dalam Festival Drama Boulevard tahun 2004, atas nama Antonio Mathias De Alonso. Hmm....namanya sama denganku, Antonio. Hebat juga dia, bisa mendapat penghargaan dari Walikota. Aku saja belum pernah mendapat penghargaan dari sekolah.

Lalu album fotonya, isinya cuma seorang anak cowok berwajah asing dengan rambut merah yang sama denganku, itu pasti Antonio, bersama kedua orang tuanya. Dia sangat mirip ayahnya, yang sepertinya bukan penduduk asli Gregory. Dan terakhir buku hariannya. Hmm...dia lahir setahun lebih dulu dariku. Nama ayahnya Mathias Ramos De Alonso, bekerja sebagai Kepala perpustakaan kota, Perpustakaan Edel. Sedangkan ibunya Maria Grace, seorang perawat di Boulevard Hospital. Dia benar-benar sama denganku. Ayahnya orang asing sedangkan ibunya penduduk asli Gregory. Dia juga pemain drama, sama denganku.

Tapi, tidak benar-benar sama, sih, karena dia bisa mendapat penghargaan dari Walikota, sedangkan aku, nol besar. Dan sepertinya dia anak baik-baik. Isi buku hariannya hanya menceritakan kesehariannya sebagai seorang pelajar yang rajin dan disiplin. Tapi yang membuatku tertarik adalah, dia berteman baik dengan Shane, Matt, dan seorang lagi yang bernama Stone, entah siapa dia. Mereka berempat sangat akrab dan kompak, meski dengan sifat yang berbeda.

Catatan hariannya berakhir pada tanggal 1 Juni 2005, awal liburan musim panas tahun lalu. Dan ada yang aneh. Setelah kosong beberapa lembar, pada halaman terakhir ada sebuah catatan, tanggal 17 Juni 2005. Bentuk tulisannya berbeda, tidak rapi seperti sebelumnya dan terkesan ditulis dengan buru-buru dan gugup.

“Kemarin malam aku melihatnya, terbang menuju bukit Alcher. Sekilas, tapi aku yakin itu dia. Huh....ini semua berawal dari ekspedisi bodoh yang kulakukan di Gunung Incantius. Kalau saja aku tak melakukannya, mungkin hal ini takkan terjadi, mungkin dia takkan muncul, dan mungkin dia takkan.... Aku harus melakukan sesuatu.

Paginya aku mengatakan semuanya pada Stone, Shane dan Matt. Tapi yang terjadi, Stone malah menganggapku membual, Shane sama sekali tidak peduli dan Matt hanya bisa ketakutan. Aku tidak tahu harus memberitahu siapa. Tidak mungkin ada yang percaya perkataan bocah berusia 15 tahun, apalagi tentang hal seperti ini. Tidak seorang pun yang akan percaya, bahkan guru Sejarahku sekali pun.

Akhirnya, setelah berpikir lama, kuputuskan untuk memberitahu Dad. Jujur saja, aku tidak terlalu berharap Dad akan percaya ucapanku. Tapi, yang terjadi justru di luar dugaanku. Memang, sih, Dad tidak mengatakan percaya. Dia hanya diam dan tiba-tiba pergi meninggalkanku menuju perpustakaan. Entah apa yang dipikirkannya, tapi sepertinya dia tahu sesuatu.

Tetap saja, aku tidak boleh diam saja, aku tidak bisa diam saja, aku harus bertindak. Aku harus menghentikannya sebelum dia berbuat sesuatu, sebelum ada korban. Mungkin...aku bisa mengatasi semuanya sendiri. Aku tahu bagaimana cara menghadapinya, aku tahu bagaimana menghentikannya, aku yakin semuanya akan berhasil, walau kelihatannya akan sulit. Lagipula, dia juga cuma sendirian, kan? Tak ada yang perlu ditakuti.

Tapi...jika memang tidak berhasil, kuharap ada seseorang yang dapat menghentikannya, siapa pun itu. Aku tidak mau ada yang menjadi korban hanya karena kebodohanku. Kuharap dia bisa melakukan yang lebih baik dari ku. Yeah, jika ada yang membaca tulisan ini, berarti aku gagal.”

Apa-apaan ini? Apa maksud tulisan ini? Ekspedisi apa yang dilakukannya? Gunung Incantius? Itu, kan, tempat Dad melakukan penggalian? Sebenarnya makhluk apa yang dibicarakannya? Kenapa semua orang tidak percaya pada ceritanya? Lalu, kenapa ada korban? Dan, bukit Alcher, bukankah itu bukit yang ada di timur hutan kecil di belakang rumahku? Ada apa sebenarnya? Apakah Antonio berhasil menghentikannya?

“Jack, sedang apa kau?! Ayo cepat turun dan sarapan! Kau harus sekolah!” seru Mom dari dapur.

“ Ya, Mom! Aku datang!” sahut ku. Aku segera memasukkan kembali piagam Antonio ke dalam laci sedangkan album foto dan buku hariannya kumasukkan ke dalam ransel.

“Apa saja yang kau lakukan? Jam segini baru bangun. Lihat adikmu, dia sudah rapi dan siap berangkat,” seru Dad begitu aku tiba di dapur.

“Maaf, aku...”

“Sudahlah, cepat sarapan dan berangkat sekolah,” potong Mom. Aku tidak perlu membantah lagi, jadi aku segera menyelesaikan sarapanku dan berangkat ke sekolah.

***

Aku tidak tahu harus bicara apa pada Shane dan Matt, tapi aku harus menceritakan tentang buku harian Antonio. Sebenarnya apa maksud catatan terakhirnya itu. Sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu dariku. Dan itu berhubungan dengan rumahku, dengan Antonio.

“Pagi Shane! Pagi Matt!” sapaku saat bertemu mereka di kelas.

“Pagi Jack!”

“Er...aku ingin bertanya sesuatu pada kalian. Kalian kenal dengan Antonio?” Shane yang sejak tadi tak mengalihkan pandangannya dari buku tebalnya mendadak memandangku lalu memandang Matt yang mendadak kehilangan senyumnya, wajah mereka tampak agak gugup. Keduanya hanya saling pandang dan tak berkata apapun.

“Sekali lagi kutanya kalian, apa kalian kenal dengan Antonio Alberto del Alonso? Anak yang dulunya tinggal di rumahku, tepatnya di kamarku?!” tanyaku sedikit keras. Tapi mereka tetap diam, bahkan Shane sudah kembali pada bukunya. Aku mulai kesal, kukeluarkan buku harian Antonio dan melemparnya di atas buku Shane.

“Dia teman kalian, sahabat kalian, dan dia adalah pemilik asli rumah yang sekarang kutinggali. Kenapa kalian tak cerita apapun padaku?!” seruku, “Lalu, apa maksud tulisan ini?” kataku sambil membuka catatan terakhir Antonio, “Kalian pasti tahu tentang ini, cepat ceritakan padaku!”

Matt memandang Shane dengan takut, dia membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu. Tapi Shane menyelanya, “Maaf, Jack, kami tidak bisa menceritakan ini padamu. Orang tua Antonio meminta kami untuk tidak menceritakan hal ini pada siapapun. Maaf, aku tidak bisa....”

“Baik, tidak masalah. Aku akan menemukan jawabannya sendiri!” kuambil buku harian Antonio dan meninggalkan mereka berdua.

***

Tidak ada petunjuk sedikitpun yang kudapatkan setelah berjam-jam berusaha mencari informasi apapun yang berhubungan dengan catatan terakhir Antonio di perpustakaan. Tidak ada berita tentang bencana atau tragedi yang terjadi sekitar tahun 2005. Dan sialnya, tidak ada seorangpun yang bisa kutanyai.

Setelah benar-benar buntu, akhirnya aku menyerah. Lagipula, nanti malam seleksi akan dilaksanakan. Jadi aku harus fokus pada itu dulu, aku bisa mengurus ini nanti. Mungkin nanti Shane dan Matt mau bercerita padaku, pada akhirnya. Aku yakin itu. Dan untungnya, malam ini lemariku sudah tidak menangis lagi. Meski begitu, aku tetap tidak bisa tidur memikirkan seleksi besok. Bagaimana caranya bisa keluar setelah makan malam tanpa ketahuan? Itu tidak mungkin, karena tidak ada bagian rumah ini yang tidak berderit keras saat kuinjak. Dan lebih tidak mungkin lagi untuk meminta izin pada Dad, itu sama saja dengan bunuh diri. Bagaimana caranya, ya?

***

Aku gelisah sekali sepanjang hari. Memikirkan cara untuk kabur dari rumah tanpa ketahuan siapapun, terutama Dad. Aku sama sekali tidak mendengarkan pelajaran sepanjang hari ini. Bahkan aku sudah lupa tentang buku harian Antonio. Hingga sekolah usai, aku masih belum menemukan cara yang tepat. Sedangkan Shane dan Matt, mereka terlalu sibuk, jadi aku tidak bisa meminta bantuan mereka.

“Kau baik-baik saja?” tanya Shane saat pulang sekolah.

“Er...ya...aku baik-baik saja...er...sebaiknya aku pulang dulu, aku akan kembali setelah makan malam. Tidak masalah, kan?”

“Asal kau sampai di sini sebelum jam sembilan.”

“OK, sampai jumpa nanti malam!”

***

Sampai di rumah aku langsung mengurung diri di kamar, berusaha mencari cara keluar dari rumah tanpa ketahuan Dad. Aku terus memeras otak hingga tak terasa waktu makan malam tiba. Jujur, aku sama sekali tak menikmati makan malam ini, karena masih belum menemukan cara kabur yang aman.

“Jack, kau baik-baik saja, Nak?” tanya Mom tiba-tiba.

“Er, yah, aku baik-baik saja...memangnya kenapa?”

“Kau tampak kurang bersemangat, kau tidak sakit, ‘kan?

“Tidak, aku sehat, kok,” aku melirik arlojiku, “Er...aku sudah kenyang, aku mau tidur, selamat malam.”

“Selamat malam,” sahut Mom, hanya Mom.

Di kamar, aku semakin gugup karena sekarang sudah hampir setengah sembilan. Aku berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Lalu tiba-tiba angin kencang berhembus seperti ada badai. Kulihat, jendela kamarku terbuka dan angin kencangnya berhenti, seakan ada kipas angin raksasa yang dimatikan secara mendadak. Tapi itu memberiku ide, satu-satunya cara agar bisa keluar rumah dengan selamat.

Segera kuambil dua sprei cadangan yang ada di dalam lemari, kuikat keduanya menjadi sebuah tali panjang. Salah satu ujungnya kuikatkan pada lubang ventilasi di atas jendela dan kulemparkan ujung yang satunya ke bawah. Sebelum pergi, kumatikan lampu kamarku agar Dad mengira aku sudah tidur. Perlahan, berusaha tak bersuara sedikitpun, aku mulai turun dengan berpegangan kuat-kuat pada tali-sprei.

Sampai di bawah, aku berdiri terpaku. Sekarang sudah jam setengah sembilan, dan aku tidak bisa mengambil sepeda di garasi tanpa ketahuan. Kalau lari dari jalan raya, paling tidak lima puluh menit baru sampai, itupun tanpa istirahat. Tapi saat melihat ke sungai di depanku, aku teringat sesuatu. Kalau kutarik garis lurus ke timur menuju bukit Alcher, aku bisa sampai ke sekolah dalam waktu kurang lebih dua puluh menit.

Tanpa pikir panjang aku segera berlari, menyeberangi sungai dan terus berlari menerobos hutan kecil. Untung bulan masih bersinar dengan terang, aku jadi sangat terbantu. Aku terus berlari, tak peduli pada ranting-ranting yang mencakari tubuhku, hingga akhirnya sampai di bukit Alcher. Tapi aku tidak boleh berhenti, setelah melewati bukit Alcher aku harus melewati hutan kecil lagi lalu sampai di jalan, melewati beberapa blok dan sampai di sekolah.

“Kau kelihatan berantakan,” kata Matt saat kami bertemu di depan gedung teater.

“Aku lelah...itu yang benar...” kataku dengan napas tersengal.

“Ayo masuk, sebentar lagi dimulai!”

Semua sudah berkumpul di dalam. Terpisah menjadi dua kelompok, sekitar lima belas orang di sisi timur yang sepertinya anggota lama karena Matt dan Shane juga berkumpul di sana, dan kira-kira dua puluh orang di sisi barat, aku segera berkumpul dengan mereka. Tapi sepertinya aku yang terakhir. Karena begitu aku masuk, seorang cowok tinggi berambut pirang jabrik naik ke panggung dan berbicara.

“OK, sepertinya semua telah berkumpul. Kita bisa mulai sekarang. Kalian semua harus menjelajahi seluruh gedung sekolah untuk menemukan tiga kertas bewarna kuning, biru, dan merah, seperti ini,” si jabrik menunjukkan tiga buah kertas berwarna, “Tidak seluruhnya, sih. Hanya koridor-koridornya saja. Dan setelah menemukan ketiganya, segera temui kami di tiga pos yang tersebar di luar gedung. Waktu kalian empat jam dari sekarang. Nah, ada pertanyaan?” si jabrik memandang para calon anggota baru, “Kalau tidak ada, ayo kita mulai seleksinya sekarang! Kalian boleh keluar lima menit setelah kami. Selamat berjuang semuanya!”

Setelah si jabrik itu turun, semua anggota lama klub drama termasuk dirinya, keluar gedung. Lima menit kemudian para calon anggota baru termasuk aku, juga keluar. Semuanya segera berpencar ke segala arah, ada yang berkelompok, ada yang berpasangan, ada juga yang sendirian. Dan karena tidak seorangpun dari mereka yang kukenal, maka terpaksa aku mencarinya sendirian. Shane dan Matt mungkin sudah siap di posnya menunggu untuk menguji kami.

Tapi yang paling membuatku jengkel saat ini adalah aku tidak membawa senter, sedangkan para peserta seleksi lain membawa. Tentu saja, karena seluruh lampu di sekolah ini dipadamkan, jadi aku harus mencari tiga lembar kertas yang tersebar di seluruh gedung sekolah dalam kegelapan, benar-benar mengesankan!

Daripada memikirkan itu, lebih baik aku mulai mencari. Hmm...karena tadi kebanyakan peserta mencari di gedung tengah dan gedung selatan, lebih baik aku mencari di gedung utara. Begitu masuk, kegelapan total menyelimutiku, aku benar-benar tidak bisa melihat. Kalau di luar, sih, mending, karena masih ada penerangan dari lampu jalan. Tapi ini, aku harus meraba dinding seperti orang buta agar bisa berjalan tanpa menabrak sesuatu. Bagaimana aku bisa menemukan kertas-kertas itu nanti? Tapi aku tidak boleh menyerah, sekitar sepuluh menit berlalu rasanya mataku mulai terbiasa, aku bisa melihat samar-samar, kalau ada kertas berwarna aku pasti bisa melihatnya.

Aku terus mencari dengan susah payah. Dan yang membuatku tak habis fakir adalah keringatku yang terus bercucuran sampai bajuku basah, padahal udara di dalam sini begitu dingin. Aku sampai mengira ada AC di sepanjang koridor ini.

Tiba-tiba ada angin kencang berhembus, benar-benar kencang. Dan ada secarik kertas yang mendarat tepat di sampingku. Aneh, seingatku semua jendela tertutup dan tidak ada satupun pintu yang terbuka. Bagaimana ada angin sekenacang itu? Lagipula ini bukan musim gugur, ini msaih awal musim semi. Sepertinya mustahil bisa muncul angin sekencang itu, apalagi di dalam ruangan. Ah, tak usah pedulikan itu. Yang penting sekarang adalah, kertas yang jatuh tadi ternyata kertas yang sedang kucari, dan kalau mataku tidak salah warnanya kuning. “Aaaaaaaa!!!!”, terdengar teriakan dari lantai atas. Aku segera berlari ke ujung koridor dan menaiki tangga. Sulit sekali berlari dalam kegelapan. Sambil tetap berpegangan pada dinding, aku berjalan menyusuri koridor. Dan di ujung koridor ada seorang cewek sedang berjongkok sambil menangis. Isakan tangisnya terdengar sangat jelas. Pelan-pelan aku mendekatinya. Cewek itu berjongkok sambil melipat lututnya di dada. Kepalanya tertunduk, sehingga wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya.

“Hei, kau baik-baik saja?” tanyaku, “Tadi kau yang teriak, kan? Ada apa? Mungkin aku bisa membantumu?”

Dia tak bergeming dan terus menangis. Aku bingung harus berbuat apa, aku tidak pernah berurusan dengan hal-hal semacam ini. Tapi mana mungkin aku meninggalkannya di tempat seperti ini sendirian. Dengan gugup aku berjongkok di sampingnya dan menyentuh bahunya, rasanya dingin seperti es. Tapi dia tetap menundukkan kepalanya sambil menangis.

“Hei, kau aman sekarang, ada aku di sini.”

Cewek itu menunjuk ke arah tangga yang ada di samping kanannya dan berkata sambil terisak, “Tadi disana ada hantu, di…dia melayang di sana dan…dan mengancam akan membunuhku....”

Aku langsung menoleh, tapi tidak ada apapun disana. Hanya ada kegelapan kosong. Aku menoleh kembali kepada cewek itu, yang sedang mengangkat kepalanya untuk menatapku. Tapi rasanya ada yang aneh dengan wajahnya. Jantungku berdegup sangat kencang saat menyadari apa yang ada di depanku. Cewek itu, cewek itu tidak memiliki wajah! Tidak ada mata, hidung ataupun mulut, semuanya rata dan putih. Aku langsung berdiri dan lari menaiki tangga sekuat tenaga. Benar-benar pemandangan yang mengerikan. Tadi itu, apa itu benar-benar hantu? Atau tadi cuma hayalanku saja, mungkin sebenarnya ada wajahnya tapi karena gelap jadi terlihat seperti itu. Tapi rasanya begitu nyata, dan kalaupun manusia, memangnya ada yang tubuhnya sedingin itu? Dan aku berada tepat di depannya, aku tidak mungkin salah lihat.

Dengan napas terengah aku berjalan perlahan. Entah sekarang aku berada di lantai berapa. Seperti yang lainnya, gedung utara ini memiliki empat lantai, dan aku tidak tahu sudah berapa tangga yang kunaiki. Tapi yang jelas semuanya tetap gelap dan semakin dingin, hanya saja keringatku tak mau berhenti keluar, itu yang membuatku jengkel. Dan sekarang aku tidak tahu bagaiman carnya keluar dari gedung ini karena aku harus menemukan dua kertas berwarna lagi. Sejujurnya, aku juga ingin mendapatkan peran utamanya. Ini mungkin bisa mengganti kekecewaanku atas drama yang gagal kumainkn di Oerthern karena harus pindah ke sini.

Plek! Tiba-tiba ada sesuatu yang mendarat di wajahku, sebuah kertas. Padahal aku tak merasakan angin berhembus sedikitpun. Seakan kertas itu melayang dengan sendirinya dan mencariku. Kukeluarkan kertas kungingku dan kuperhatikan keduanya dari dekat, sepertinya warnanya berbeda. Mungkin ini kertas yang berwarna biru, karena kalau merah warnanya akan lebih terang. Sumpah, aku masih tidak percaya atas semua kejadian sejak aku memasuki gedung utara ini. Bagaimana badai muncul di dalam gedung rapat di tengah musim semi dan berhenti tepat saat muncul kertas kuning, dan bagaimana kertas biru yang terbang tanpa angin sedikitpun. Seolah kertas-kertas itu yang datang mencariku. Aku benar-benar tak habis pikir. Dan sekarang, bajuku sudah basah kuyup oleh keringat dan entah kenapa kakiku mulai gemetar, semakin lama semakin keras. Aku hampir tidak bisa berjalan karena gemetarnya tidak mau berhenti, bahkan berdiripun sulit. Kuputuskan untuk istirahat sejenak. Kulihat arlojiku, yang untungnya jarumnya bisa menyala dalam gelap. Baru setengah sepuluh, berarti baru setengah jam aku di dalam gedung ini, tapi dengan kejadian-kejadian tadi, rasanya begitu lama. Setelah gemetarku hilang, aku kembali berjalan menyusuri koridor. Lengang sekali. Gedung utara ini begitu luas, berkeliaran sendirian begini, dalam kegelapan lagi, aku bersumpah takkan melakukan ini lagi.

Tapi tunggu, samar-samar aku mendengar suara seseorang berlari. Semakin lama suaranya semakin jelas. Kemudian suara itu melewatiku begitu saja, lalu terdengar suara orang berteriak, seorang cewek. Sesaat semuanya kembali senyap, hingga akhirnya aku mendengar isakan tangis dari arah teriakan tadi. Awalnya aku takut untuk mendekat, bisa saja kali ini juga makhluk yang tak berwajah. Dengan kaki gemetar, perlahan aku mendekati cewek itu. Dia setengah terbaring di lantai, sepertinya tak menyadari keberadaanku.

“Hei, kau tak apa-apa?” isakannya mendadak berhenti dan cewek itu berteriak ketakutan padaku, “Tolong! Di atap...ada orang...digantung! Cepat, dia harus ditolong!”

“Tenanglah, kita akan menolongnya, tapi aku harus memastikan kalau kau baik-baik saja.” Ketika kubantu dia berdiri, kurasakan tubuhnya gemetar kencang sekali. Kupapah tubuhnya agar bisa berjalan. Dengan tubuh gemetar seperti ini, dia tak mungkin sanggup berjalan karena kakinya pasti lemas sekali.

“Jennifer Cage, terima kasih kau sudah menolongku.”

“Aku Jack Antonio De Carlo, tidak masalah, sudah seharusnya aku menolongmu, kan?”

Saat sampai di atap, aku baru bisa melihat wajah Jennifer dengan jelas karena bulan masih bersinar dengan cukup terang. Dia cantik, benar-benar cantik, jauh lebih cantik dari Lunar yang selalu menjadi rebutan cowok-cowok di sekolah kami dulu. Mata birunya, rambut hitamnya yang lurus, bibirnya yang tipis dan halus, tidak cukup kalau dibilang cantik saja, dia lebih dari sekedar cantik. Aku hanya bisa menatap wajahnya tanpa bisa mengatakan apapun.

“Hei, kau kenapa?” pertanyaannya membuatku sedikit terlonjak. Aku segera mengedarkan pandanganku, “Er, tidak...aku tidak apa-apa, aku...” di sana, aku melihatnya, seseorang digantung di bawah tiang pagar, menghadap ke barat dengan kepala tertunduk, hanya punggungnya yang terlihat. “Kau tunggu di sini,” kataku sambil mendudukkan Jennifer dan mendekati orang itu perlahan. Jujur, aku juga sedikit takut. Kalau yang digantung itu benar-benar orang, berarti ada pembunuh yang berkeliaran di sekolah ini diantara orang-orang yang ada di sini malam ini.

Tapi, alih-alih merasakan dingin saat menyentuh tangannya, aku justru merasakan sesuatu yang empuk, seperti bantal atau semacamnya. Ternyata, itu hanya sebuah boneka. Dan saat kubalikkan badannya, didada boneka itu tertempel kertas merah yang sedang kucari. Ini pasti tipuan para senior.

“Tidak usah takut, ini hanya boneka kok!” seruku, “Dia bukan manusia,” aku berbalik dan mendekati Jennifer. Kulihat wajahnya sedikit tenang, tapi mendadak raut wajahnya berubah, dia kelihatan sangat ketakutan.

“Jack, awas dibelakangmu!” serunya.

Aku memutar kepala dan melihat sesuatu yang benar-benar mengejutkanku, sesuatu yang tak masuk akal, boneka itu bergerak dan hendak menyerangku dengan sebilah pisau besar, aku tidak melihat ada pisau tadi. Aku langsung lompat mundur, tapi lengan kiriku tergores pisaunya, aku merasa sedikit perih dan sepertinya darahku keluar cukup banyak. Dia mengacungkan pisaunya yang berdarah dan mulutnya bergerak menyeringai lebar. Kedua mata besarnya menyala merah. Dan tiba-tiba kepalanya tertunduk, begitu juga dengan tangannya, terkulai lemas. Pisau besarnya jatuh di atas lantai atap. Selama beberapa saat pikiranku kosong, aku tidak bisa memikirkan apapun melihat kejadian paling aneh dan mengerikan ini.

“Jennifer, sepertinya ada yang tidak beres di sini. Lebih baik kita segera meninggalkan gedung ini. Aku takut kalau terjadi apa-apa nanti,” kataku begitu pikiranku kembali. Jennifer mengangguk dan kupapah lagi tubuhnya, kemudian kami segera keluar dari gedung utara ini. Selama perjalanan menuruni gedung, aku terus berdo’a semoga tidak terjadi apa-apa lagi. Untung Jennifer menyimpan senter kecil, sehingga kami bisa keluar lebih cepat. Segera setelah berada di luar, kubawa Jennifer menuju klinik sekolah, karena dia tak mungkin meneruskan seleksi ini.

“Terima kasih, Jack. Semoga berhasil,” katanya sebelum kutinggalkan di klinik.

“Aku pasti berhasil.”

Menurut peta yang diberikan oleh senior, pos pertama berada di belakang gedung tengah, tepat di sudut timur lapangan. Sekolah ini terbagi menjadi tiga bangunan utama, gedung utara, gedung tengah dan gedung selatan. Ruang kelasku berada digedung tengah, dari jendela aku bisa melihat halaman sekolah dan jalan raya di sisi timur gedung. Sedang di bagian barat gedung digunakan untuk lapangan olah raga. Mulai dari lapangan baseball, lapangan basket, volly, sepak bola, tenis, dan lari. Meski tidak sebesar sekolahku yang lama, tapi sekolah ini cukup nyaman.

Di pos pertama ada empat orang menantiku sedang duduk di bangku penonton sambil ngobrol. Dan yang membuatku terkejut adalah, salah seorang dari mereka, cewek yang berambut hitam panjang, dia tidak berwajah! Dan kalau kuingat-ingat, rambut panjang dan postur tubuhnya, sama dengan hantu yang kutemui di dalam gedung utara tadi. Tapi aku semakin terkejut ketika dia menarik sesuatu dari lehernya dan kulit wajahnya terkelupas sepenuhnya. Kemudian dia tertawa lepas bersama teman-temannya. Ternyata dia memakai topeng. Jadi, hantu yang kutemui di dalam gedung tadi bukanlah hantu, melainkan salah seorang senior yang memakai topeng dan menakut-nakuti para peserta seleksi yang sedang mencari kertas. Memang benar, yang namanya hantu itu tidak ada.

Tapi sepertinya masih ada yang ganjil. Boneka yang ada di atap. Rasanya terlalu mustahil kalau itu adalah kostum, karena saat kupegang tangannya aku tak merasakan apapun selain kapas dan kain yang dijejalkan di dalamnya, aku tak merasakan tangan manusia di dalamnya. Selain itu, lehernya digantung oleh tambang yang kuat dan kakinya berada beberapa senti di atas lantai. Kalau itu manusia, dia pasti sudah mati.

“Hei, kau tidak apa-apa? Lenganmu terluka,” kata si cewek hantu.

“Er, tidak, ini hanya luka ringan...”

“Kau sudah mendapatkan semua kertasnya?” sela cowok berkacamata yang duduk di ujung selatan, tatapannya dingin sekali.

Kukeluarkan ketiga kertas berwarna yang kudapat, “Sudah.”

Keempat orang itu berdiri dan mendekat, “Sekarang ambil kertas kuning dan laksanakan instruksinya!” perintah cowok berwajah garang yang berdiri tepat di hadapanku. Kuambil kertas kuning dan menyimpan yang lainnya lalu kubaca instruksinya. Aku harus memerankan seorang cowok yang ketakutan karena dikejar hantu. Bukan hal yang sulit karena aku baru saja melihat hantu, meskipun bukan hantu sungguhan. Tapi tidak mudah juga, karena setelah itu aku harus menampilkan ekspresi bahagia karena mendapat pesta kejutan saat ulang tahun. Ini cukup sulit, selain karena perubahan ekspresinya secara mendadak, tapi juga karena aku belum pernah mendapat pesta kejutan saat ulang tahunku, hanya Mom yang ingat dan memberiku kue pie kecil dan sebuah hadiah yang tak kalah kecil, sampai-sampai hadiah sejak aku berusia lima tahun bisa kusimpan dalam boks lampu belajarku.

Setelah berjuang mati-matian, dan membayangkan Dad mengingat hari ulang tahunku, aku berhasil menyelesaikan tugas itu dengan cukup baik, dan keempat senior yang mengujiku meloloskanku dan memberikan sebuah stempel pada kertas kuningku. Tanpa membuang-buang waktu aku segera berlari ke pos dua, yang terletak di sudut timur sekolah, tepatnya di belakang gudang. Di pos dua ini ada si jabrik yang bicara di gedung teater tadi. Dia meminta kertas kuningku dan menyuruhku membaca instruksi dari kertas biru. Kali ini tugasnya lebih sulit dari yang tadi. Peran yang harus kumainkan adalah seorang anak yang baru saja kehilangan seluruh keluarganya karena dibantai oleh hantu, perasaan sedih dan marah.

Sejujurnya, aku tidak terlalu suka ini. Kenapa harus hantu? Maksudku, dari awal semuanya selalu berhubungan dengan hantu, bahkan ada yang menyamar menjadi hantu. Memangnya ini klub pemuja setan? Ini klub drama, kan? Tapi saat ini hal itu tidak penting. Yang penting aku msauk klub drama, apapun tidak masalah. Dan, setelah meraung-raung dan berteriak seperti orang gila selama beberapa menit akhirnya si jabrik memberikan stempel pada kertas biruku. Dengan semangat aku berlari menuju atap gedung tengah, di sanalah pos tiganya. Dan ternyata ada Shane dan Matt juga. Tapi tentu saja mereka tidak akan menyapaku karena mereka sedang bertugas, aku yakin mereka juga tidak akan repot-repot membantuku. Kenyataannya, kali ini aku harus melakukan dua peran tanpa jeda. Pertama, menjadi seorang pemburu vampire yang sedang beraksi, tentu saja memburu vampire. Aku sedikit menyukai ini. Lalu, yang paling kubenci, aku harus menjadi seorang vampire. Vampire?! Yeah, makhluk penghisap darah yang suka pakaian serba hitam itu. Tidak jauh berbeda dengan hantu, benar-benar tidak masuk akal.

“Hmm, sepertinya sulit,” gumamku, “Boleh aku minta waktu? Aku harus membayangkannya dulu, kan?”

“Baik,” kata Shane, dia melirik arlojinya, “Satu menit, tidak lebih.”

“Terima kasih,” aku langsung duduk di lantai atap. Tanpa sengaja aku melihat ke atap gedung utara. Boneka itu masih tergantung di sana, dengan kepala terkulai lemas seperti orang mati.

“Sudah satu menit, cepat mulai!” bentakan Shane menyadarkanku. Aku bangkit dan mulai menjalankan instruksi dari kertas merah. Setelah dengan amat susah payah aku menyelesaikannya, aku langsung berlari ke klinik. Saat menuruni anak tangga menuju lantai dasar, aku berpapasan dengan seorang cowok jangkung berambut pirang pucat. Ada yang aneh dengannya, bola matanya seperti orang mati. Dan ekspresi wajahnya kosong, seakan dia tak punya perasaan.

***

Ternyata bukan hanya Jennifer yang dirawat di klinik. Ada dua orang cewek yang sedang tidur, dan seorang cowok bermata lebar yang tampak pucat dan ketakutan, Dokter Max sedang merawatnya. Aku menghampiri Jennifer yang terbaring di ranjang paling selatan. Dia tersenyum dan mempersilahkanku duduk di tepi ranjangnya. Wajahnya masih sedikit pucat, tapi dia tampak baik-baik saja.

“Bagaimana kabarmu?” tanyaku kikuk.

“Tak pernah lebih baik...” dia memegang tanganku, yang tiba-tiba gemetar, “Terima kasih, kalau tidak ada kau, mungkin sekarang aku masih terkurung di gedung yang gelap.”

“Er...tidak perlu, maksudku, tidak masalah...siapapun yang menemukanmu pasti akan menolongmu, kan? Dan aku...kebetulan saja ada di sana...jadi...” Aku tidak bisa bicara lagi. Jennifer masih menggenggam tanganku sementara gemetarnya makin kencang saja. Aku berusaha melepaskan genggamannya, tapi begitu lepas aku jadi menyesal, karena raut muka Jennifer berubah. Dan selama beberapa saat kami hanya terdiam. Kucoba untuk mengatakan sesuatu tapi rasanya sulit sekali. Rasanya lidahku kaku.

Saat aku sudah benar-benar putus asa, Dokter Max datang. Ah, dia menyelamatkanku. “Kau yang membawanya ke sini, kan?” Dia memeriksa kaki Jennifer, lalu menatapku, “Kau pacarnya?”

“Pacar? Er, itu...bukan, dia bukan pacarku, kami...kami baru saja kenal...” jawabku gugup. Pacar? Dokter ini bicara sembarangan saja.

“Kau baik sekali mau membawanya ke sini,” dokter itu berdiri, “Tapi kurasa lebih baik dia istirahat dulu.kalau kau tidak keberatan...”

“Er, ya, kurasa aku ingin ke kafetaria,” sahutku, “Istirahatlah, kita akan bertemu lagi, nanti.”

“terima kasih, sampai nanti.”

***

Kafetaria berada di belakang gedung selatan. Bergabung dengan laboratorium, pepustakaan, dan kantor-kantor klub. Gedung teater persis disebelah baratnya. Tidak terlalu ramai, hanya ada lima orang. Dua di pojok selatan, dua lagi di sebelah barat pintu masuk dan satu orang di meja tengah. Mereka semua peserta seleksi, dan semuanya tampak lelah. Setelah mengambil segelas kopi dan sepotong roti, aku duduk disamping jendela yang menghadap ke lapangan sekolah yang gelap, tampak begitu senyap, seakan tak ada seorang pun di sana.

“Huh, semoga saja aku berhasil”, desahku.

Satu jam berlalu dengan lamban sekali. Sudah ada tiga orang lagi yang datang, mereka duduk di meja tengah, bergabung dengan cewek berambut ikal yang duduk sendirian. Aku lega saat Shane dan Matt datang, tepat tengah malam. Seperti yang lain, mereka juga terlihat lelah, tapi sepertinya mereka senang, mungkin karena tugas mereka sudah selesai.

“Hai, Jack! Aku punya kabar gembira untukmu,” seru Shane, “Tapi sebelumnya, kau harus memberitahuku siapa cewek cantik yang kau bawa ke klinik tadi?”

Aku mengernyit, “Cewek? Klinik? Kau bicara apa?”

“Sudahlah, jujur saja,” sahut Matt, “Dia terus mengawasimu sejak kau keluar dari gedung utara bersama cewek berambut hitam itu.”

Aku menatap Shane tak percaya, “Baiklah...aku baru saja mengenalnya, di dalam gedung utara itu. Dia ketakutan dan aku menolongnya, itu saja.”

“Itu saja?”

Aku menoleh pada Matt dan teringat sesuatu, “Oh ya, kau tahu boneka yang tergantung di atap gedung utara?”

“Boneka? Tentu saja, Shane yang memasangnya, memangnya kenapa?”

“Kau yakin itu boneka?”

“Apa maksudmu?”

“Percaya atau tidak, boneka itu hidup, dan dia hampir membunuhku...”

“Hidup?!” sela Shane, “Maksudmu...”

“Maksudku, hidup, dia bergerak, dan mencoba membunuhku dengan pisau...”

“Tidak mungkin, itu hanya boneka, aku sendiri yang memasangnya!” potong Shane.

“Kupikir juga begitu, tapi dia hidup dan hampir saja membunuhku! Dia bahkan menyeringai padaku. Kalau kau tak percaya, kau boleh tanya Jennifer. Dia melihat semuanya,” Shane terus menggelengkan kepala sementara Matt tampak ketakutan, wajahnya mendadak pucat.

“Itu tidak mungkin,” sangkal Shane, “Kau jangan bercanda Jack, ini tidak lucu. Lihat, kau membuat Matt ketakutan,” dia mendekatkan wajahnya padaku, “Dengar, lupakan apa yang kau alami di atap gedung utara, dan jangan katakan hal ini pada siapapun. Anggap saja kau mengalalami halusinasi.”

“Halusinasi? Kau tidak lihat luka di lenganku ini?! Tidak mungkin halusinasi bisa membuat orang terluka, kan?”

“Jack, kumohon...lupakan saja, kita tidak perlu membahas hal ini lebih jauh. Lagipula, kau sendiri pernah bilang kalau kau tidak percaya hantu, kan?”

Aku terdiam mendengar pertanyaan Shane. Memang, sejak dulu aku tidak pernah percaya tentang hantu dan semacamnya. Tapi kejadian di atap benar-benar mengejutkanku, aku tak bisa melupakannya begitu saja. hanya saja, melihat Matt begitu ketakutan, aku tidak berani berkata apa-apa lagi.

“Baiklah, anggap saja tadi aku ngelantur,” katak akhirnya, “Tapi...sepertinya tadi kau bilang ingin menyampaikan kabar gembira padaku?

Shane langsung tersenyum dan berseru, “Oh ya, hampir lupa. Begini, kau lolos seleksi dan terpilih menjadi tokoh utama protagonis. Selamat, ya!”

Aku hampir tak percaya mendengar ucapan Shane. Rasanya seperti mimpi. Bagaimana tidak? Menurutku, penampilanku tadi sangat pas-pasan, kalau tidak dibilang buruk. Aku hanya melakukan semampuku. Sulit dipercaya aku bisa lolos dan mendapat peran utama protagonis.

“Selamat, Jack! Kau memang hebat tadi. Aku tidak menyangka kau bisa tampil sebaik itu,” kata Matt.

Hmm, entahlah, yang jelas sekarang aku senang. Tapi tiba-tiba aku ingat sesuatu. Aku harus tiba di rumah sebelum ada yang sadar aku telah menyelinap keluar. Kalau tidak, Dad akan membunuhku. Aku harus segera pulang.

“Er...Shane, setelah ini, tidak ada acara lagi, kan?” tanyaku ragu, “Maksudku, semuanya sudah selesai, kan? Soalnya, aku harus pulang sekarang juga. Bisa bahaya kalau sampai terlambat...”

“Sebenarnya belum, setelah ini akan ada penjelasan mengenai drama yang akan kita mainkan ini. Tapi kalau kau memang harus pulang sekarang juga, pulanglah. Besok datang saja ke rumahku, aku akan menjelaskan semuanya padamu.”

“Benarkah? Kalau begitu terima kasih banyak!” aku berdiri, “Tak perlu buang-buang waktu, aku pulang sekarang. Selamat malam!” seruku sambil melangkah keluar kafetaria.

“Selamat malam!” sahut Shane dan Matt bersamaan.

Saat melewati klinik aku teringat Jennifer. Kupikir tak masalah kalau menjenguknya sebentar. Tapi ternyata dia sudah tidur. Jadi kutulis sebuah pesan dan nomor teleponku pada secarik kertas dan kujejalkan pada genggaman tangannya. Semoga saja dia mau menelponku.

Seperti saat berangkat, kali ini aku juga mengambil jalan pintas. Hanya saja yang sekarang lebih sulit karena bulan sudah tidak ada, jadi semuanya hampir gelap dan tak terlihat. Beberapa kali kakiku terantuk akar pohon atau batu dan jatuh di atas tanah berbatu yang penuh daun dan ranting yang basah. Dan saat sampai di rumah, tubuhku sudah penuh luka, begitu juga wajahku. Tapi syukurlah, sepertina tidak ada yang tahu aku sudah menyelinap keluar karena sprei yang kugunakan untuk menuruni balkon masih tergantung. Hmm, malam yang menyenangkan, semoga besok lebih baik.


Bayangan itu…….

“Jack! Sampai kapan kau akan tidur?! Cepat bangun dan sarapan!”

Teriakan keras Mom membuatku terbangun. Rasanya malas sekali bangun dari tempat tidur, seluruh tubuhku masih terasa sakit dan pegal-pegal. Tapi begitu melihat jam digital di atas meja belajarku menunjukkan jam sembilan lebih, tak ada pilihan lain selain bangun. Dan dalam keadaan hampir tidak sadar aku berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Tapi begitu kutatap wajahku di cermin kesadaranku muncul sepenuhnya dan kengerian muncul begitu saja.

Wajahku penuh luka, begitu juga dengan kedua lenganku. Ini pasti karena tadi malam, baik berangkat maupun pergi aku mengambil jalan pintas, yang artinya harus menerobos hutan. Kalau sampai Dad melihat ini, bisa mati aku. Mana mungkin ada orang yang tidur semalaman di dalam kamar tiba-tiba bisa dipenuhi luka begini?

Daripada memikirkan itu, lebih baik membersihkan luka-luka ini dulu. Tapi saat sedang menikmati rasa perih akibat alkohol yang menyentuh luka-lukaku, tiba-tiba pintu kamarku dipukul-pukul dengan keras diiringi teriakan Mom, sepertinya dia agak kesal.

“Jack Antonio De Carlo! Apa yang sedang kau lakukan di dalam sana?! Cepat keluar!”

Ini gawat. Kalau Mom memanggil nama lengkapku berarti dia marah besar. Aku segera membukakan pintu, tapi aku segera menyesalinya, karena Mom tampak sangat terkejut melihatku.

“Apa yang terjadi padamu? Kenapa bisa penuh luka begitu?”

Aku benar-benar bingung harus berkata apa, “Er...Dad mana?” tanyaku begitu saja, karena itu adalah pertanyaan terpenting saat ini.

“Apa kau tidak bisa memikirkan hal lain?” Mom menarikku ke dalam dan mendudukkanku di ranjang, “Ayah dan adikmu sedang ke kota, mungkin mereka pulang saat makan malam,” dia mengambil alkohol dan membersihkan lukaku dengan kasar.

Ahm syukurlah...untuk sementara aku selamat, tapi, “Auw! Sakit! Bisa pelan sedikit?”

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” kata Mom tanpa menghiraukan keluhanku, “apa yang kau lakukan semalam? Apa yang terjadi padamu hingga penuh luka begini?”

“Ini, kan hanya luka ringan...”

“Sebanyak ini?” Mom meletakkan botol alkohol dan memegang kedua pipiku, menatap mataku dan berkata, “kau tidak pernah berbohong padaku, sekarang ceritkan apa yang terjadi padamu semalam. Aku janji takkan memberitahu ayahmu ataupun adikmu.”

“Janji?”

“Janji.”

Setelah tersenyum kecil dan menarik napas panjang, kuceritakan kejadian semalam secara detil, bahkan saat aku ketakutan melihat hantu palsu. Mom senang sekali karena aku bergabung dengan klub drama, tapi saat kuceritakan tentang boneka di atap yang hidup dia langsung menyangkalku dan mengatakan aku pasti berhalusinasi, mengingat suasananya sepi dan menakutkan. Setelah berdebat agak lama, akhirnya kuputuskan untuk menyerah. Tapi aku tetap yakin kalau yang ku alami itu bukan halusinasi, karena Jennifer juga melihatnya. kalau tidak, tidak mungkin dia berteriak memperingatkanku, kan?

“Jadi, kau terlpilih menjadi tokoh utama?” tanya Mom akhirnya.

“Ya, aku juga tak menduganya. Tapi...Mom mau, kan, menontonku malam Halloween nanti?”

“Tentu saja sayang, aku pasti akan menonton pertunjukanmu.”

“Tapi ingat, jangan sampai Dad dan Lunar tahu, OK?”

“Tenang saja, kau tak perlu khawatir...”

Tiba-tiba aku teringat sesuatu, “Oh, hampir lupa!” selaku, “Aku harus ke rumah Shane sekarang. Tadi malam aku tidak sempat mengikuti rapat setelah seleksi.”

“Tapi kau harus sarapan dulu.”

Tak ada benarnya kalau kutolak. Selesai sarapan aku langsung mengayuh sepedaku menuju rumah Shane. Sekitar tiga puluh menit kemudian aku sudah berada di depan rumahnya. Agak sulit menemukannya karena berkali-kali aku salah jalan, meski sudah bertanya berkali-kali. Dan ternyata, rumah Shane tidak sebesar yang kukira. Bahkan tidak lebih besar dari rumah lamaku di Orthern. Tapi tampak sangat nyaman, dengan halaman yang dihiasi taman kecil yang rapi dan indah, sangat terawat. Dinding dan lantainya terbuat dari kayu Oak merah, sederhana tapi berkelas. Dan jendelanya, dengan kaca berwarna berbentuk angsa yang cantik, menambah indahnya rumah itu. Apalagi bel kuno yang tergantung di atas pintu, rumah ini jauh lebih keren dibanding rumahku yang tua dan usang.

Seorang cewek berambut hitam lurus sepinggang datang setelah kubunyikan bel beberapa kali. Wajahnya sangat mirip dengan Shane, tapi kelihatan lebih tua sedikit. Dia tersenyum ramah padaku, “Selamat pagi! Ada yang bisa kubantu?”

“Er...ya, ini...benar rumahnya Shane Ritcher, kan?” tanyaku gugup.

Cewek itu menangguk, “Benar, aku Rita, kakaknya.”

“Aku Antonio, Jack Antonio,” kataku sambil mengulurkan tangan.

Raut muka Rita mendadak berubah, senyumnya hilang dan dia tampak ketakutan. “A..aku akan memanggil Shane...” katanya gugup. Tanpa menjabat tangan ataupun mempersilahkanku masuk, dia meninggalkanku begitu saja di depan pintu yang setengah terbuka.

Sesaat kemudian Shane datang. Penampilannya kotor dan berlumpur, “Hai, pagi! Maaf aku sedang berkebun bersama Dad,” katanya sambil mengelap lumpur di wajahnya dengan lengan bajunya, “Ayo masuk!”

“Rumah yang keren,” gumamku begitu tiba di dalam. Aku menduga kalau seluruh rumah ini terbuat dari kayu Oak merah, baik dinding maupun lantainya, dan semuanya tampak sangat terawat. Karena memang begitulah yang kulihat. Di dalam ruang tamu, sebuah lemari kayu besar penuh dengan buku-buku tua berdiri di belakang satu set kursi kayu ukir yang elegan. Saat memasuki ruang keluarga, ada dua buah lemari kayu yang lebih besar dan berisi buku lebih banyak terletak di belakang dan di samping sofa kulit yang nyaman. Dan di depan sofa itu, sebuah TV flat lebar bertengger di tengah sebuah lemari besar berwarna hitam, di antara puluhan buku yang memenuhi lemari itu. Aku semakin terkesima saat naik ke lantai dua dan mendapati tiga buah lemari kayu yang lebih besar lagi yang juga penuh dengan buku berjejer mengelilingi satu set sofa berwarna coklat kayu yang cantik. Rumah ini seperti perpustakaan saja, di mana-mana ada buku.

“Banyak sekali buku...” gumamku kagum. Shane hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Dan saat dia membuka pintu berukir dengan huruf S besar berbentuk ular dalam sebuah lingkaran yang terletak di tengah pintu, dia tersenyum lagi dan berkata, “Silahkan masuk...dan jangan terkejut, ya...”

Tapi rasanya tak mungkin untuk tidak terkejut. Dua sisi dinding kamar itu ditutupi oleh dua buah lemari kayu besar yang penuh dengan buku, mengapit sebuah ranjang tanpa kaki dan sebuah meja belajar yang tampak nyaman. Satu sisi dinding lain ditutupi lemari pakaian, di atasnya terdapat rak kayu yang dipenuhi buku setinggi setengah meter. Dan yang kosong hanyalah bagian yang menghadap jalan. Bahkan tidak ada dindingnya, semuanya kaca tebal transparan dengan dua pintu di kanan-kirinya. Di luar dinding kaca terdapat balkon dengan sebuah kursi dan meja kayu.

“Ini benar-benar kamar?” tanyaku heran, seolah tak ada pertanyaan yang lebih baik lagi. Shane hanya mengangkat bahu dan mempersilahkanku duduk di atas ranjang. Hmm...memang nyaman tidur menghadap pemandangan di luar dinding kaca.

“Ini,” kata Shane sambil melempar sebuah buku panjang yang cukup tebal ke arahku. Buku itu bersampul hitam dengan judul: “The Rebirth of The Vampire” berwarna merah darah.

“Itu adalah naskah drama yang akan kita pentaskan Halloween nanti,” jelas Shane, “Sebaiknya kau baca dulu halamanpertama, itu sinopsis ceritanya. Dan peran yang kau mainkan, ada di halaman kedua.” Begitu selesai bicara, dia pergi meninggalkanku dan kembali dengan membawa minuman dan makanan ringan.

Drama ini bercerita tentang perburuan vampir yang terjadi selama ratusan tahun. Tapi lima abad yang lalu, saat Kayouth, vampir pertama, tertua dan terkuat, berhasil dibunuh oleh Van Hellsing dan dikurung dalam sebuah gua yang disegel, perburuan itu berhenti karena tidak ada lagi vampir sejak Kayouth mati.

Suatu hari, segel gua itu dibuka oleh seseorang dan Kayouth bangkit, dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya. Vampir itu mencari keturunan Van Hellsing untuk membalaskan dendamnya. Seorang cowok yang telah kehilangan seluruh keluarganya sejak kecil, dan hidup di sebuah panti asuhan kumuh. Dan akulah yang akan memerankan cowok itu. Cowok yang akan menghabisi Kayouth untuk selamanya.

“Aku suka ceritanya, kau yang mengarangnya sendiri atau bersama Matt?”

“Tidak, itu bukan karanganku maupun Matt,” sangkal Shane, dia menyalakan komputer di meja belajarnya, sesaat kemudian terdengar lagu Where Do You Go dari Fort Minor, “Cerita itu adalah sebuah mitos...”

“Mitos?”

“Benar, mitos lama yang dipercaya penduduk Boulevard,


***


Matahari semakin meninggi dan tak terasa sudah pukul empat sore, aku harus segera pulang. Setelah pamit kepada orang tua Shane, kupacu sepedaku sekuat tenaga. Aku tidak sabar ingin menceritakan semuanya pada orang-orang dirumah.

Begitu sampai dirumah, aku langsung memasukkan sepedaku digarasi dan berlari ke dapur. Tapi didapur tidak ada siapapun.

Diruang keluarga, diruang tamu, tidak ada orang sama sekali. Rumah ini kosong. Aneh, apa semuanya sedang keluar? Tapi jelas-jelas aku melihat mobil dad digarasi, bahkan handphone-nya tergeletak diatas TV. Tidak mungkin dad berpergian tanpa membawa hanphone-nya. Kuputuskan untuk naik dan menunggu dikamar. Ketika melewati kamar dad, terpikir ide untuk memeriksanya sekali lagi. Dan begitu masuk kedalam, aku tidak mendapati seorangpun. Tapi aku mendengar desahan halus dari kamar mandi. Perlahan aku mendekat dan mengintip dari lubang kunci. Ups, ternyata mom dan dad sedang…….

Memang, belakangan ini dad selalu pulang larut malam dan pagi-pagi sekali sudah menghilang, mungkin mereka tidak sempat melakukannya. Tiba-tiba ada angin berhembus, aku segera menoleh. Dan seperti melihat orang baru saja keluar dari kamar ini. Aku segera mengejarnya. Tidak ada siapa-siapa, tapi kulihat pintu kamarku baru saja tertutup. Jantungku hampir berhenti ketika kubuka pintu kamarku dan sosok anak cowok yang berlumuran darah itu melayang tepat dihadapanku. Dia menyeringai padaku dan melayang mundur. Tubuhku kaku bagai batu. Kemudian bergetar hebat sekali. Hantu itu terus menatap tajam diriku, sambil memamerkan senyumnya yang menakutkan. Perlahan tubuhnya memudar dan akhirnya menghilang. Tubuhku melemas seakan baru saja berlari satu mil. Aku terduduk diambang pintu. Memikirkan kejadian-kejadian aneh semenjak aku tinggal dikota ini. Sebenarnya apa maksud semua ini?

“Jack, sedang apa kau disana sayang?” panggilan mom menyadarkanku. Dad sedang memeluk mom dari belakang, mesra sekali. Mereka kelihatan agak kelelahan.

“Kau sedang apa, Jack?” tanya dad tanpa melepaskan pelukannya.

“Er…tidak…aku hanya….er….itu….ada kecoa!”

“Mana adikmu?”

“Entahlah, sepertinya belum pulang. A….aku kebawah dulu. Rasanya haus sekali.”

Ketika aku turun mom tersenyum dan berkata, “Disampingmu ka nada dispenser, untuk apa kau turun segala?”

“Oh, iya, ya? Bagaimana aku bisa lupa?” dengan gugup aku mengambil air dari dispenser dan meneguknya terburu-buru. Sebelum aku masuk kekamar, kulihat mom dan dad sedang berciuman mesra didepan kamar mereka.


Sejujurnya aku takut sendirian dikamar. Tapi aku tidak mungkin mengatakan,

Dad, aku takut sendirian dikamar, tolong temani aku.” Jadi aku menguatkan diri untuk bertahan dikamar. Untuk menghilangkan rasa takut, kunyalakan computer dan kumainkan virtual game. Saat sedang asyik memainkan game, mendadak monitor komputerku mati. Dan hantu itu muncul lagi didalam monitor. Aku sungguh tak tahan lagi. Aku sudah muak dengan hantu itu.

“Sebenarnya apa maumu, hah! Kenapa kau selalu menggangguku?!”

Hantu itu sepertinya marah, dan ia menjulurkan tangan kearahku. Kupikir tidak apa-apa karena dia ada didalam monitor, tapi ketika tanganya keluar dari dalam monitor dan mencakar wajahku, aku tak sempat mengelak. Kuku-kukunya yang panjang bagai pisau merobek pipiku begitu dalam. Rasanya panas dan perih. Aku terjatuh kelantai, dan pintu kamar menjeblak terbuka. Lunar berdiri didepan pintu menatapku dengan wajah ketakutan dan dia menjerit kencang sekali.

“Ada apa Lunar?” Tanyaku seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Wajah Lunar kelihatan panik, “Jack, kau tidak apa-apa?! Kenapa kau bisa terluka seperti itu? siapa yang telah mencakar wajahmu, Jack?”

“Er…ini…aku tadi…sedang….”

“Ada apa Lunar, kenapa kau menjerit? Ya ampun Jack, apa yang terjadi padamu nak?”

“Aku tadi…itu…er…ada…”

“Ini harus dibawa kedokter. Lunar, berikan pertolongan pertama pada kakakmu. Aku akan memanggil dad untuk menyiapkan mobil. Ya ampun, kenapa bisa begini? Dasar anak-anak.” Gerutu mom ketika menuruni tangga. Lunar mengambil kotak P3K dan membersihkan darah yang keluar dari lukaku. Bajuku sudah darah oleh darah. Setelah membalut lukaku, Lunar menuntunku turun. Rasanya pipiku panas dan sakit sekali.

“Thanks Lunar”.

“Tidak masalah, kau ini kan kakakku. Lagipula kau ini kenapa sih sampai terluka seperti ini?”

Aku mengangkat bahu, “Entahlah, aku juga bingung”.


Malam ini hantu itu tidak datang. Mungkin dia merasa puas karena sudah bisa mencelakai diriku. Mom dan dad datang sebelum aku tidur.

“Jack, kalau ada apa-apa, bicarakan denganku. Aku tahu kau pindah kekota ini dengan berat hati. Tapi ini terpaksa Jack, terpaksa. Kau jangan membuatku semakin merasa bersalah…” dad berbicara dengan raut muka sedih sekali.

“Tidak, aku Cuma……”

“Benar nak. Kau ini anak baik, jangan melakukan hal yang tidak-tidak. Aku setuju kau ikut klub drama, kau memang berbakat dalam bidang itu. tapi jangan kecewakan kami dan membuat kami khawatir seperti ini.”

“Tapi mom, aku…..”

“Lebih baik kau istirahat, sudah malam. Besok kau harus masuk sekolah”. Potong dad. Mereka mencium keningku, dan meninggalkanku sendirian.


Aku bermimpi buruk. Hantu itu datang lagi dan membantai seluruh keluargaku. Aku menangis dan membentaknya keras-keras. Tapi dia hanya tersenyum senang yang membuatku semakin marah. Aku memegang pisau dapur dan menyerangnya. Dia tidak bergeming, hanya menyeringai padaku. Aku menembus sosoknya yang transparan dan jatuh tersungkur. Hantu itu berbalik dan siap menyerangku dengan sebilah pisau ditangan kirinya. Dia mengangkat pisaunya dan aku terbangun dari tidurku. Seluruh tubuhku basah oleh keringat dingin, dan pipiku rasanya sakit sekali. Kulirik jam dindingku., pukul tujuh.


Teror di Koridor

“Pagi sayang. Kau mau makan burger, bubur gandum atau roti panggang?”

“Bubur gandum saja. Kurasa aku belum bisa makan roti saat ini.”

“Kalau kau mau, dad bisa mengantarkanmu.”

“Tidak usah mom, aku masih bisa mengayuh sepeda”.

“Terserah, kalau kau mau begitu”.

Pukul delapan kurang seperempat aku sampai disekolah. Bisa ditebak. Shane begitu kaget melihat balutan luka lebar dipipi kiriku.

‘Kenapa pipimu, Jack?! Sebulan lagi kau akan pentas, bagaimana mungkin kau akan memainkan drama dengan balutan luka sebesar itu?!”

“Tenang, dua minggu lagi sudah sembuh, kok.”

“Lagipula, kenapa kau bisa terluka seperti itu?”

“Entahlah, aku juga bingung. Saat ini aku belum bisa mengatakannya padamu”

“Tidak apa-apa. O ya, nanti sore latihan akan dimulai. Kau harus siap.”

“Tentu, aku akan menjalankan tugas sebaik-baiknya. Kau tak perlu khawatir.”

Karena aku anggota baru klub, aku belum kenal seorangpun dari anggota lama. Jadi Shane memperkenalkan mereka satu persatu.

“Ini John Clay, ketua klub ini”. Kata Shane sambil menunjuk seorang pria bermata biru yang rambutnya dicat ungu.

“Sedangkan yang gemuk ini Pedro de Pierre, dia berdarah italy. Kemudian cewek manis berambut hitam panjang itu Kelly Osborn. Mereka berdua adalah sutradara.”

“Yang memakai topi merah itu Cody corner, disebelahnya ada Sanosuke Tsukimura yang berasal dari jepang. Mereka adalah perancang kostum.”

“Lalu cewek berambut pirang panjang dan yang disebelahnya, Ashley Grace dan Judy Jacobs, mereka adalah piñata rias”. Shane terus memperkenalkan semua anggota klub dan….

“Yang ini,” Katanya sambil memegang bahu pria jangkung berambut pirang pucat, “Stone Geranimo, pria berdarah campuran yang akan memerankan Kayouth.

“Stone, ini Jack Antonio De Carlo, dia lawan mainmu yang akan memerankan Blady Brokley, si pembasmi vampir.

“Salam kenal”, kataku sambil mengulurkan tangan. Bukannya meraih uluran tanganku, dia malah berkata.

“Somoga kau tidak menangis ketakutan, bocah.” Kemudian dia berlalu tanpa menghiraukan aku yang bengog.

“Kenapa dia begitu sombong?” Tanyaku jengkel.

Shane tersenyum, “Entahlah, mungkin karena darah bangsawan yang mengalir dalam tubuhnya.

“Dia keturunan bangsawan?!”

“Ya, bangsawan Geranimo yang dulunya penasihat kerajaan Albania”.

“O…..”

“Ah, biarkan saja, ayo latihan! Semua sudah siap.”


Latihan berjalan lancar sampai pukul tujuh sore. Aku pulang bersama Shane karena kami satu arah. Jalanan mulai sepi. Malam hari ini di Boulevard begitu sepi. Hanya ada bebarapa kendaraan besar dan Bus.

“Shane, apa aku nanti bisa memerankan tokoh itu dengan baik?”

“Kau pasti bisa. Tadi kau melakukannya dengan baik sekali. Masih ada sebulan dari sekarang. Masalah luka itu, kau sendiri yang mengatakan kalau akan sembuh dalam dua minggu.”

Aku tersenyum lega. Berharap semuanya berjalan lancer.

***

Aku tiba dirumah tepat saat makan malam, bersamaan dengan dad.

“Bagaimana dengan latihanmu hari ini, Jack?”

“Lancar dad, how about you?”

“Yaah, biasa, melelahkan. Ayo, masuk!”

Dad meraih bahuku dan kami melangkah bersama.

Selesai makan malam, mom dan dad langsung naik. Lunar belajar dikamarnya dan aku terlalu lelah untuk melakukan apapun.


Pagi ini sekolah gempar. Didinding depan kelasku, tertulis pesan dengan huruf besar-besar berbunyi, “All of you must die!” dan pesan itu ditulis dengan darah! Tidak hanya itu, dikoridor depan kelas II 7, seorang cewek ditemukan pingsan bersimbah darah. Seluruh tubuhnya basah oleh darah yang kental dan pekat. Sepintas orang akan mengira cewek itu yang telah menuliskan pesan kematian itu. tapi aku curiga, mungkin dia dijebak oleh seseorang. Dari tempatnya ditemukan dilantai tiga, sedangkan pesan itu ditulis dilantai dua. Jika kulihat dari percikan darahnya, sepertinya dia berlari kencang sekali dari depan kelasku kelantai tiga.

“Katanya cewek itu dari kelas II 5, kalau tidak salan namanya….Jennifer, Jennifer adam.” Shane menerawang.

“Jennifer adam? Kau tidak salah dengar?”

“Memangnya kenapa? Kau mengenalnya?”

“Dia adalah cewek yang kutolong pada malam pengetesan calon anggota. Tapi ngomong-ngomong, waktu itu kau tahu darimana kalau aku membawa seorang cewek kepos satu?” sedangkan kau ada dipos tiga kan?”

“O..itu? sebenarnya aku mengawasimu sejak kau keluar dari gedung utara. Jadi aku tahu semua kejadian saat kau keluar dari gedung utara sampai dipos tiga.”

Kami terdiam sebentar.

“Jadi….cewek itu, ya?” Gumam Shane.


Malam ini Jennifer ikut latihan. Ternyata dia berperan sebagia cewek yang diselamatkan Blady dari Kayouth, yang nantinya bekerjasama dengan Blady untuk menghabisi Kayouth. Jennifer terlihat ceria sekali. Seaakan kemarin malam tidak terjadi apa-apa.

“Hai Shane, kenalkan ini Jennifer adam. Dia akan memerankan Veyria.” Kelly menarik Jennifer kearah kami.

“Shane Ritcher.”

“Jennifer adam. Oh, apa kabar Jack? Kau yang jadi Blady kan?”

“Banar. Sepertinya kita akan bermain bersama.”

Kelly mengerutkan kening. “Kalian sudah saling kenal ya?!”

“Begitulah….”

Begitu semua berkumpul, latihan langsung dimulai. Kali ini lebih lancer karena semua tokoh sudah lengkap.


Aku sudah selesai berkemas ketika kulihat Jennifer sedang bicara dengan Stone. Entah kenapa dadaku rasanya sesak sekali. Aku tidak suka melihat Jennifer bicara begitu santai dengan bangsawan Geranimo itu.

“Hai Jack, kita akan pulang bersama kan?” seru Jennifer setelah berada disampingku.

“Er…aku…”

“Jack, aku pulang dulu, aku buru-buru! Mom memanggilku!” seru Shane dari pintu keluar.

“Er…iya, kita pulang bersama”.


Saat menuntun sepeda dijalan petak dipinggir halaman sekolah, terdengar teriakan dari gedung selatan. Aku dan Jennifer segera berlari kesumber suara. Jennifer terpekik kaget melihat pemandangan yang kami lihat dari koridor lantai satu gedung selatan. Seorang cewek terkapar diatas genangan darah. Tangan kanannya memegang pisau dan pergelangan tangan kirinya robek dan terus mengucurkan darah segar. Aku semakin kaget ketika kusibakkan rambutnya dan terlihat wajahnya. Dia Kelly! Sutradara diklub drama. Kuraba pergelangan tangan kanannya. Nadinya berdenyut lemah, berarti dia masih hidup.

“Cepat panggil ambulans! Aku akan mencoba menghentikan pendarahannya sementara!”

Jennifer segera mengambil handphone-nya dan menghubungi rumah sakit. Sementara aku berlari mencari kotak P3K dan kubebat lukanya sekencang mungkin.

“Katanya dua puluh menit lagi ambulans tiba.”

“Dua puluh menit? Dia bisa mati kehabisan darah! Kita harus segera membawanya kerumah sakit!”

Kuangkat tubuhnya dan kubawa keluar. Didepan gedung tengah kulihat ada sepeda motor.

“Jennifer, kau pegangi dia dari belakang. Kita akan membawanya dengan sepeda motor ini. Dimana rumah sakit terdekat?”

“Dijalan Valcon, kerah tenggara. Lima menit dari sini.” Setelah Jennifer siap, segera kupacaku sepeda motor sekencang-kencangnya. Tiga menit kemudian kami sampai. Denyut jantungnya masih terasa. Tapi semakin melemah. Aku bisa sedikit lega ketika Kelly sudah masuk ICU. Aku baru saja menghubungi dad dan orang tua Kelly, ketika john dan Shane datang.

“Tadi Jennifer menelephon kami, bagaimana keadaan Kelly sekarang?”

“Entahlah, saat ini dia masih di dalam ICU.”

“Eh, waktu kami kesini ada orang ngamuk karena sepeda motornya tiba-tiba menghilang.” Kata Shane sambil tersenyum jahil.

“Siapa?”

“Itu lho, si angkuh Geranimo. Kau telah membawa sepeda motor musuhmu rupanya.”

Sepuluh menit kemudian orang tua Kelly tiba. Mereka kelihatab panic sekali.

“Apa sebenarnya yang terjadi pada putriku?”

“Kami juga tidak tahu, Mr. Osborn. Dia kami temukan sudah tidak sadarkan diri.”

Seorang dokter muda keluar dari ruang ICU, “Anak itu kehilangan banyak darah. Dia harus segera mendapatkan donor darah.”

“Saya ayahnya, golongan darah kami sama. Ambil saja darahku!”

“Baiklah, ayo ikut saya.”


Sepeninggal Mr. Osborn semua terdiam kembali. Kemudian terdengar isakan Mrs. Osborn. John yang sepertinya sudah kenal baik dengan keluarga mereka, mendekati Mrs. Osborn, “Tenanglah Mrs. Osborn, Kelly pasti sembuh. Dia cewek yang kuat.”

Mrs. Osborn mengangguk dan menangis dipelukan John.

“John itu pacar Kelly. Mereka sudah pacaran selama dua tahun.” Bisik Shane.

Ketika Mr. Osborn kembali, aku pamit pulang karena sekarang sudah pukul sembilan malam. Shane memutuskan untuk ikut bersamaku.

“Nak, terima kasih kau telah menolong putriku. Entah apa yang terjadi apabila kau tak segera menolongnya.”

“No problem, Mr. Osborn. See you later.”

“See you too”.

Aku, Shane dan Jennifer segera keluar dari rumah sakit.

“Tapi Shane, aku harus mengembalikan sepeda motor milik stone.”

“Tidak usah, kulihat dia dijemput sebuah Limowin sewaktu aku kemari. Besok saja disekolah. Tapi kau harus siap mental nanti.”

“Tapi sepedaku dan Jennifer?”

“Tak usah khawatir, ada penjaga sekolah kan?” ucapnya enteng.



Saat tiba dirumah, Mom sedang menungguku diruang keluarga, sedangkan dad tidur dipangkuannya.

“Bagaimana Jack, temanmu selamat?”

“Belum tahu, tapi sepertinya tidak masalah, karena dia sudah mendapatkan donor darah. Er….apa tidak sebaiknya kalian tidur dikamar? Kasihan dad, disini dingin. Mom juga pasti capek kan?”

“Kau benar, aku sudah mengantuk sekali.” Lalu mom mengecup pipi dad dan membelai kepalanya sambil berkata, “Sayang, lebih baik kita tidur dikamar, kau bisa masuk angin bila tidur disini.” Dad menggeliat dan bangun. Lalu dengan sempoyongan naik keatas.

Aku sangat kaget dan marah ketika kubuka pintu kamar, kudapati kamarku sudah hancur berantakan layaknya kapal perang yang sudah digempur habis-habisan. Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin ada orang yang masuk kekamarku dan menghancurkannya seperti ini, karena aku selalu meninggalkan kamar dalam keadaan terkunci. Dan yang membawa duplikatnya hanya mom.

Begitu masuk, kulihat ada tulisan dari darah yang mongering didinding berbunyi, “You are the next.” Aku bergidik setelah membacanya. Tapi mendadak keberanianku muncul dan aku menjadi sangat marah.

“Kau tidak akan pernah berhasil mencelaikaiku hantu bodoh! Aku akan menhentikanmu! Lihat saja nanti!” teriakku keawang-awang. Kuhempaskan tubuhku diatas tempat tidur. Setelah pusing memikirkan hantu itu, aku terlelap.

Paginya, aku tercengang melihat kamarku begitu rapid an bersih. Seakan tidak pernah terjadi apa-apa tadi malam. Bahkan tulisan darah didinding hilang tak berbekas. Aku benar-benar tak habis pikir, sebenarnya apa yang diinginkan hantu itu? dia membantu, tapi juga mencelakaiku. Benar-benar makhluk yang aneh.


Drama Pembawa Maut

Pagi ini aku berangkat dengan mengendarai sepeda motor milik stone. Sebenarnya aku malu sekali, tapi untungnya aku berangkat pagi-pagi sekali, sehingga tidak seorangpun yang tahu. Saat memarkirkan sepeda motor, kulihat sepedaku dan Jennifer sudah bertengger ditempat parkir paling ujung selatan. Aku bergegas menuju kelasnya stone. Tadi malam Shane bilang, aku harus siap mental. Aku bisa menebak apa maksudnya.


“Hai stone! Er….tadi malam aku meminjam sepeda motormu untuk mengantar Kelly ke Rumah Sakit. Maaf aku tidak meminta izin padamu dulu. Tapi kalau tidak segera kuantar, dia bisa mati kehabisan darah……”

‘Tidak masalah. Asalkan sepeda motorku kembali dengan utuh!” jawabnya dingin.

“Tentu, sepeda motormu baik-baik saja. Ini kuncinya.” Kataku bersemangat dan menyerahkan kunci sepeda motor padanya. Tapi saat aku akan melepaskan kunci keatas telapak tangannya yang terbuka, tiba-tiba dia menarik tangannya sehingga kuncinya jatuh kelantai.

“Ups, maaf, tanganku gatal. Bisa tolong ambilkan?” katanya dengan nada yang dibuat-buat. Dan ketika aku berjongkok dan menjulurkan tanganku untuk mengambil kunci, dengan angkuhnya dia menendang kunci itu menjauh dariku. Aku malu sekali. Apalagi banyak orang memperhatikanku dari dalam kelas. Wajahku seperti udang rebus.

“Ow, maaf lagi, ya. Aku tak sengaja, kulihat ada kecoa tadi jadi aku menendangnya supaya menjauh. Ternyata kuncinya juga kena. Maaf, ya.”

Dengan geram aku berdiri dan mengambil kuncinya. Dan kesabaranku habis, ketika ia menendang bokongku saat aku berjongkok untuk mengambil kunci sehingga aku jatuh tersungkur. Semua yang melihat menertawaiku. Begitu juga si Geranimo itu, dia tertawa paling keras, tawanya menakutkan, seperti tawa setan. Aku lepas kendali dan kupukul rahangnya keras-keras. Belum puas kuhantam terus wajahnya sampai semua orang terdiam.

“Rasakan itu orang kaya sombong! Kau akan menerima lebih dari ini jika kau berani bertingkah didepanku!” kutinggalkan dia dengan wajah sudah babak belur. Matanya melotot marah tapi dia diam tak berbuat apa-apa. Ketika aku sudah sampai dipintu keluar, dia berteriak, “Awas kau bocah tengik!” kau akan mendapatkan balasan yang setimpal karena sudah berani berbuat macam-macam terhadap keturunan bangsawan geranimo!”

“Aku tidak akan pernah takut pada ancamanmu, stone!”



Hari ini sekolah gempar, karena keturunan Geranimo dipukuli oleh seorang anak cowok berambut hitam. Dan satu-satunya orang yang memiliki rambut hitam disekolah ini hanya aku seorang. Saat makan siang, aku merasakan semua mata memandangku sembunyi-sembunyi. Bahkan saat aku makan, terdengar bisik-bisik yang membuatku makin merasa canggung.

“Jack, apa gosip itu benar?” tanya Shane, dia terlihat panic sekali.

“Gosip apa?”

“Gosip yang mengatakan kau telah memukuli stone Geranimo.”

“Memangnya kalau benar kenapa?”

“Ini bukan masalah sepele Jack. Dulu pernah ada seorang anak yang berani memuukulnya, seperti dirimu. Beberapa hari kemudian dia tidak masuk sekolah karena diteror habis-habisan oleh anak buah stone. Saat malam Halloween anak itu ditemukan tewas berlumuran darah. Dia kejatuhan lampu sorot yang ada diatas panggung. Semua orang menganggapnya kecelakaan biasa. Tapi aku yakin kecelakaan itu sengaja dibuat oleh Stone Geranimo.” Tubuhnya bergemetar setelah mengucapkan kalimat barusan.

“Tenang Shane, aku bisa jaga diri. Aku jamin, aku akan baik-baik saja. O ya, berbicara tentang Halloween, aku ingin mmbicarakan satu hal denganmu.” Aku mengambil nafas mencoba menguatkan diri.

“Begini, sejak pertama kali datang kekota ini, aku selalu diganggu oleh….hantu. awalnya dia tak pernah menampakkan diri. Saat malam tes calon anggota klub, dia datang membantuku. Menerbangkan kertas kuning dan biru tepat kearahku. Tapi anehnya, ketika aku mengambil kertas merah pada boneka yang ada diatap, dia hampir saja mencekik leherku, kalau saja Jennifer tidak berteriak memberitahuku. Esik harinya, setelah pesta barbeque dihalaman belakang rumahku, dia muncul didalam kamarku. Tepat didepan jendela dia menyeringai padaku. Seluruh tubuhnya berlumuran darah. Rambutnya cokelat gelap berantakan dan basah oleh darah. Dan siang harinya, setelah aku bermain kerumahmu, dia datang dan menorehkan tiga luka dalam pipiku.” Aku mengarahkan telunjukku kebekas luka yang ada dipipi kiriku. Shane kelihatan shock. Dia tak sanggup berkata apa-apa.

“Dan akhirnya dia mulai meneror anak-anak dengan pesan darah dikoridor itu. kemudian Kelly, aku yakin itu juga ulah hantu itu. karena saat pulang, aku mendapati kamarku hancur berantakan dengan pesan darah didinding berbunyi, you are the next.”

Usai menyatakan semua itu, aku terdiam, begitu juga dengan Shane. Napas kami memburu seakan baru saja berlari bermil-mil jauhnya.

“Benar….benar dugaanku,…ternyata…ternyata dia….dia ingin membalas dendam….”

“Maksudmu?”

“Hantu itu, adalah anak cowok yang tewas tertimpa lampu sorot itu. kau bilang rambutnya cokelat gelap kan? Setahun yang lalu….kejadian itu maksudku. Sebenarnya dia adalah anak yang baik dan cukup pintar. Namun dia terlalu pendiam dan aneh, sehingga tak seorangpun yang mau berteman dengannya. Tapi ketika dia masuk klub drama, aku mencoba mendekatinya dan bersahabat dengannya. Kamipun menjadi taman baik. Dia selalu dikucilkan, baik di kelas, di kafetaria, bahkan di perpustakaan. Sampai suatu hari ketika kita berjalan bersama di koridor gedung selatan, tak sengaja kami berpapasan dengan stone. Dan bisa ditebak, stone mengejeknya habis-habisan. Bahkan akupun ikut diejeknya. Begitu mendengar stone mengejekku, dia lepas kendali dan memukuli stone dan berkata, “Kau boleh menghinaku sampai mulut hinamu itu berbusa. Tapi jangan sekali-kali mengganggu satu-satunya temanku! Ingat itu orang kaya sombong! Dan seperti itu yang telah kukatakan padamu, dia mulai diteror dan berakhir dengan kematiannya. Aku tidak ingin kau bernasib sama dengannya, Jack!”

“Siapa namanya Shane?”

“Namanya Antonio del Alonso, aku biasa memanggilnya Tony”.

“Antonio,….namanya sama denganku. Rumahnya, apa kau tahu dimana rumahnya?”

“Kalau tidak salah….ya ampun! Benar juga! Kenapa aku bisa lupa?” tanya Shane pada dirinya sendiri.

“Rumahnya, adalah rumah yang saat ini kau tinggali. Chronicles nomor empat, benar kan?” aku terkejut sekali, semakin terkejut ketika menyadari satu hal.

“Mungkin kamar yang kutinggali saat ini, dulunya kamar tony.” Gumamku.

“Kapan tepatnya dia meninggal?”

“Setahun yang lalu, saat malam Halloween, diatas panggung drama kematian….”, tubuh Shane bergetar hebat.

“Bodoh! Harusnya aku bisa menolongnya saat itu! kalau saja aku tidak menyuruhnya utnuk menarik tuas lampu sorot, dia tidak akan mengalami kematian tragis itu!” Shane menangis. Tubuhnya bergetar semakin kencang.

“Sudahlah Shane, itu semua bukan salahmu. Semua itu takdir, dan kau tidak bisa melawan takdir….” Kubawa dia ke kafetaria. Setelah menyeruput kopi panas, dia mulai tenang.

“Kasihan dia, sejak kecil selalu dihina. Dia tidak pernah merasakan kebahagiaan dimanapun. Ayahnya meninggal saat dia berumur sepuluh tahun. Temannya hanyalah buku-buku yang tak terhitung banyaknya. Sampai ia bertemu denganku…..”

Aku meraih bahunya, mencoba menenangkannya dengan merangkulkan tanganku.

Belum genap sebulan aku tinggal disini. Sudah terlalu banyak masalah yang menimpaku. Ditambah lagi soal stone itu. aku benar-benar tak tahan lagi. Tuhan….kapan semua ini akan berakhir.


Halloween Berdarah

Halloween masih tiga minggu lagi. Mulai minggu ini latihan dikurangi menjadi tiga kali seminggu yaitu, selasa, kamis dan sabtu. Sebenarnya aku masih takut kalau tiba-tiba hantu Antonio muncul lagi dikamarku. Karena dia masih sering menakut-nakuti orang di koridor sekolah, atau digedung teater. Hubunganku dengan stone masih seperti dulu. Tapi dia belum mulai menorku seperti yang Shane katakana. Dia tetap angkuh dan tak mengacuhkan diriku.


Latihan hari ini seperti biasanya. Karena yang paling sibuk justru Cody dan Sonosuke. Hari ini kostum rancangan mereka baru saja selelsai dibuat. Benar-benar mengagumkan. Design-nya tidak asal-asalan dan rapi. Ukurannya pun pas sekali.

“Shane, bagaimana penampilanku?”

“Sempurna, kau benar-benar tampan dengan kostum itu.”

Aku mengenakan pakaian hitam ketat yang ada garis-garis birunya. Kainnya seperti baju selam, kedap air. Dan ukurannya yang ketat membuat badanku bisa bergerak bebas.


Karena besok week end dan tidak ada latihan, aku bermaksud untuk mengajak Jennifer keluar.

“Hi Jennifer, bisa bicara sebentar?”

Jennifer mendekat, “Ada apa?”

“Er….malam ini….apakah kau punya acara?”

“Um….sepertinya tidak, kenapa?”

“Tidak apa-apa. Hanya saja aku ingin mengajakmu keluar, kau tidak keberatan kan?”

Mata Jennifer berbinar, “Tentu saja aku mau! Jam berapa?”

“Aku akan menjemputmu jam delapan nanti.”

“OK, kutunggu!”



Aku sudah rapi dengan kemeja ungu dan jeans biru tua yang sudah kusam. Ketika aku bercermin didepan cermin lusuhku, ada kejadian aneh. Tiba-tiba kabut didalam cermin. Semakin lama semakin tebal. Kemudian terdengar isakan tangis seorang anak cowok.

“Hei….apakah kau Tony, maksudku Antonio? Aku…aku juga bernama Antonio. Kenapa kau menangis?”

Tidak ada jawaban, dan dia masih saja menangis, bahkan semakin keras. Aku mendekatkan telingaku ke cermin, dan………..Prang!!!!! cermin itu hancur berkeping-keping tepat didepan wajahku. Untungnya aku langsung menghindar sehingga tidak terkena pecahannya. Kalau saja aku telat menghindar, mungkin bukan hanya pipiku yang akan diperban, tapi seluruh wajahku.

Tangisnya berhenti, diganti oleh tawa keras yang membahana. Aku memutar tubuhku dan melihat hantu Antonio melayang diatas tempat tidurku. Dia masih tertawa terbahak-bahak, diiringi deru angin keras yang mempora-porandakan isi kamarku.

Aku berteriak kepadanya, “Sebenarnya apa maumu?”! mungkin aku bisa membantumu! Kau ingin membalaskan dendammu pada Stone kan? Aku akan membantumu! Katakan saja apa yang harus kuperbuat?!”

Anginnya berhenti dan tawanya juga sudah tak terdengar lagi. Dia meringkuk diatas tempat tidur sambil menangis.

“Benar, mungkin aku bisa membantumu agar si sombong Stone itu berhenti menghina orang….” Tanpa sadar tubuhku sudah menggigil. Dan diudara kosong, muncul tulisan dari darah. “Kau benar-benar baik hati seperti Shane”, kemudian tulisan itu menghilang dan muncul lagi, “ Aku tidak akan mengganggumu lagi, sampaikan pada Shane, Halloween tahun ini tepat setahun kematianku. Aku akan muncul untuk yang terakhir kali”. Setelah itu dia menghilang. Meninggalkan kehancuran total dikamarku.


Aku tersadar oleh dentuman jam dinding. Tepat pukul tujuh. Kurapikan pakaianku dan bergegas turun. Aku sudah meminjam mobil dad. Awalnya dad keberatan, tapi setelah kupaksa dan kubilang bahwa aku sudah tujuh belas tahun dan sudah punya KTP meski belum memiliki SIM.

“Kau harus berahati-hati, walaupun kota ini tak seramai Northtown, tapi jalanan tetap saja berbahaya.” Begitulah pesan dad.


Kupacu Ford tua milik dad dengan kecepatan sedang. Dari rumahku kerumah Jennifer sekitar tiga puluh menit. Jalanan kota cukup lenggang. Padahal ini weekend.

Jennifer sudah menunggu diteras saat aku sampai dirumahnya. Dia tampil cantik dengan kaos putih ketat dan rok mini hitam, dipadu dengan boot selutut.

“Hei! Kau datang lebih cepat!”
“Benar, dan kau sendiri, kukira sekarang terlalu cepat kan kalau kau menunggu diteras?”

Mukanya memerah, “Tidak, aku hanya bosan didalam.”

“Baiklah, bagaimana kalau kita berangkat sekarang?”

“OK, ayo!”

Sebenarnya aku bingung mau kemana. Mau nonton, baru jam setengah delapan, mau ketaman kota takut membosankan. Akhirnya aku putuskan ke Carnaval saja sekalian menunggu gedung bioskop dibuka. Jennifer senang sekali waktu kuajak ke Carnaval. Kami mencoba berbagai permainan. Dan saat melihat rumah hantu, Jennifer bersemangat sekali ingin masuk. Awalnya aku ragu, bukan karena aku takut, tapi aku tahu Jennifer itu agak penakut, bisa-bisa dia pingsan didalam nanti.

“Kau yakin ingin masuk?” Tanyaku sangsi.

“Iya, aku ingin sekali kesana. Sepertinya menyenangkan.” Saat dia mengatakan itu, muncul dua orang remaja dari dalam rumah hantu dengan wajah pucat sekali. Sepertinya mereka atlet. Aku baru saja akan bicara ketika Jennifer menarik tanganku. Dia benar-benar serius.


Seperti dugaanku, Jennifer tidak bisa berhenti menjerit. Aku sampai tuli mendengarnya.

“Aaaaaaaaa!” Jennifer menjerit keras sekali sambil mendekap tubuhku kuat-kuat saat tiba muncul boneka berlumur darah didepan kami.

“Tenang, itu kan hanya boneka. Kau tidak perlu setakut itu kan?”

“Iya…tapi….”

Aku meneruskan perjalanan sementara Jennifer mendekap erat lengan kiriku. Begitu sampai diluar Jennifer langsung melepaskan dekapannya, wajahnya merona malu.

“Ayo, mungkin sekarang gedung bioskopnya sudah dibuka.”


Awalnya, aku igin menonton film horror. Tapi mengingat Jennifer yang penakut begitu, akhirnya aku memilih menonton film romantis. Dan ternyata dia suka sekali film itu. karena selama film itu diputar, wajahnya sangat ceria, bahkan tangannya menggenggam erat tanganku. Diam-diam aku membalas genggaman tangannya yang semakin keras.

Hampir tengah malam saat aku sampai didepan rumah Jennifer.

“Jack, ini benar-benar weekend yang menyenangkan!” Jennifer mendekat dan meraih kedua tanganku. Tapi langsung melepasnya dengan wajah memerah.

“Oh, aku lupa mengatakannya, kau cantik sekali malam ini”. Aku mendekat.

“Terima kasih. Aku senang sekali malam ini.” Kami sudah sangat dekat sekarang. Aku bisa melihat kerutan bibirnya dengan jelas. Tanpa sadar aku mendekap tubuhnya dan bibir kami bertemu. Cukup lama bibir kami saling berpahutan.

“Er…..sudah tengah malam, aku harus pulang….”

“Ya, aku juga. Dad pasti sudah menunggu didalam”.

“Good night!”

“Good night!”



Aku pulang dengan perasaan meluap-luap. Sungguh malam terbaikku selama

tinggal di kota ini. Sampai aku lupa kalau bebarapa jam lalu hantu Antonio telah menghancurkan kamarku. Lampu ruang tengah masih menyala saat aku memasukkan mobil ke garasi. Ternyata dad sedang asyik mengetik sesuatu di laptopnya. Aneh, tidak biasanya dad melakukan pekerjaannya disini. Biasanya dad mengerjakannya diruang kerjanya dibelakang.

“O, Jack kau sudah pulang, bagaimana malam minggumu? Apakah kau berhasil menciumnya?”

“Ah, Dad, aku…..”, aku tidak bisa bicara karena malu.

“Dengan tampang seperti itu aku yakin kau telah melakukannya.” Aku hanya bisa tersenyum malu.

“Sekarang lebih baik kau tidur. Besok bantu aku membongkar gudang”.

“Baik, good night, dad!”

“Good night!”


Aku kaget sekaligus bersyukur, karena saat naik, kudapati kamarku sudah rapid an bersih. Bahkan pecahan cerminnya sudah tidak ada.

Tanpa sadar aku berkata, “Thanks Tony.” Dan kurebahkan tubuhku diatas tempat tidur dan langsung terlelap.

Aku terbangun oleh panggilan lembut mom. Saat kubuka mataku, mom sudah ada disampingku.

“Jack, ayo cepat bangun bantu dad dibelakang,” ucapnya sambil mengelus kepalaku lembut.

“OK, mom! Give me five minutes,”

“Cepat, ya!” setelah mengacak rambutku, mom turun.



Hari ini begitu cepat berlalu karena sepanjang hari aku dibelakang bersama dad. Mengangkut barang-barang yang tidak bisa digunakan lagi dan menjualnya ditoko barang bekas dikota.

Malamnya aku tidur lebih cepat karena rasanya capek sekali.

***

Latihan berikutnya lebih serius dari biasanya, karena Halloween tinggal seminggu lagi. Tepatnya minggu malam nanti. Latihan yang sempurna karena baik dari kostum, make up, maupun trik, semuanya telah siap. Mulai hari ini jam latihan ditambah lagi, meski tidak selalu dengan perlengkapan dan make up sempurna.

Kalau kuperhatikan, ada yang berbeda dengan diri Stone. Sepertinya dia terlihat murung dan sedih, tidak seperti biasanya yang angkuh. Aku jadi sedikit prihatin padanya.

“Hei, kau baik-baik saja?”

“Eh, kau, yeah, aku baik. Kenapa?”

“Tidak, hanya saja, kau kelihatan murung hari ini. Tidak seperti kau yang biasanya, yang….”

“Angkuh dan sombong, iya kan?” Nada bicaranya terdengar sedih. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Tapi tiba-tiba dia berkata dengan mata berkaca-kaca.

“Kenapa? Kenapa aku begitu jahat? Kenapa aku begitu tega membunuh seseorang hanya karena dia membela temannya?! Kenapa Jack?!” air matanya menetes sekarang.

“Stone, kau….”

“Aku monster, aku tidak pantas hidup! Harusnya aku yang mati! Bukan dia, bukan Antonio!” Ratapnya.

“Tenanglah, stone, semua sudah terjadi. Yang penting kau sudah mau berubah, itu sudah cukup. Antonio pasti memaafkanmu”.

“Tidak! Tidak akan pernah!.....belakangan ini dia sering datang padaku dengan wujudnya yang sangat menyeramkan. Seluruh tubuhnya berlumuran darah, dan aku yang menyebabkan itu terjadi, Jack! Aku!”

Aku menjadi semakin bingung. Ternyata bukan hanya aku yang diganggunya. Apa maksud semua ini?

“Stone, bukan hanya kau yang didatangi oleh hantu Antonio, tapi aku juga. Bahkan aku sempat dilukainya, lihat pipiku ini! Tapi sekarang dia sudah melunak, bahkan terakhir kali dia muncul didepanku, dia menangis. Dia tidak menyalahkanmu!”

Stone terdiam, tapi dia menangis, kemudian dia mendekap tubuhku dan berkata,

“Maafkan aku atas perlakuanku padamu dulu”.

Aku tersenyum, “Harusnya aku yang minta maaf. Bukannya berterima kasih, aku malah memukulmu”.

“Tapi aku memang pantas dipukul, bahkan dibunuh”. Tubuhnya gemetar hebat sekali.

“Tenang, semua sudah berakhir. Sekarang kita adalah teman, aku akan selalu ada untukmu kapanpun kau butuhkan.”

“Thanks Jack”.

“Tak masalah”.


Aku pulang dengan perasaan berbunga-bunga. Karena mulai hari ini aku dan stone bersahabat. Hal yang sepertinya mustahil terjadi. Shane hampir tak percaya waktu aku menceritakannya. Karena sebelumnya aku begitu membencinya. Karena ini benar-benar tidak bisa dipercaya. Dan soal Jennifer, hubungan kami semakin dekat sekarang. Dia orang yang sangat terbuka dan periang. Aku suka tipe orang seperti dia.

“Tony, kau lihat? Seorang stone saja bisa berubah menjadi orang baik. Semua pasti beres.” Ucapku diatas tempat tidurku. Aku yakin, Antonio pasti mendengarnya meski aku tak melihat wujudnya.


Ini hari terakhir aku latihan. Semua sibuk mempersiapkan diri untuk besok. Bukan hanya klub drama, tapi juga klub musik, klub lukis, dan masih banyak lagi.

“Jack, besok….apa benar dia akan datang?”

“Percayalah padaku Shane, Antonio pasti datang. Kau harus menemuinya.”

“Entahlah, aku percaya padamu tapi….”

“Kau takut dia akan mendekati seseorang kan? Tenang saja, dia tidak akan melakukannya, aku yakin itu”. Shane hanya diam, wajahnya terlihat khawatir.


“Jack, Lunar bilang nanti malam kau akan mementaskan drama disekolah, benarkah itu?”

“Benar dad. Aku harap kalian semua hadir dan melihatku. Aku akan jadi tokoh utamanya”.

“Waw, pasti menarik. Jangan khawatir, kami pasti datang.” Sahut mom.


Setelah bersusah payah mengenakan kostum, aku langsung turun kebawah. Mom dan Dad sudah siap dengan kostum vampir sedangkan Lunar tampil anggun dengan jubah penyihirnya.

“OK, semua sudah siap, ayo berangkat!” kami segera keluar dan menaiki Ford tua milik dad.


Jalanan kota cukup ramai, banyak lampu hias disana-sini. Aku benar-benar tegang, takut kalau nanti berbuat kesalahan.

“Tenang Jack, tidak usah gugup. Aku yakin kau pasti bisa”.

“Iya, tapi hanya keluar satu kali. Itupun menjadi seorang pengemis yang mati tertabrak truk!” jawabku ketus.

“Tapi mom yakin kalau kau akan sukses malam ini, sayang”.

“Thanks mom.”

Sepuluh menit kemudian kami sampai. Aku benar-benar terkejut karena halaman sekolahku berubah menjadi panggung yang cukup megah. Dan lagi, banyak sekali orang yang datang malam ini. Aku bergegas menuju gedung teater. Aku menyapukan pandangan dan menemukan Shane dan stone sedang berbincang disudut ruangan.

“Hai Jack, kau tampak tegang sekali.” Sapa stone.

“Santai saja bung. Aku yakin kau pasti bisa. Selama latihan kau selalu tampil dengan baik.”

“Tapi ini bukan latihan!”

“Hei, kalau kau nervous begitu, kau akan gagal. Nih, minum ini, kau akan tenang”, tiba-tiba john datang. Aku meneguknya dan ternyata benar, aku sedikit rileks sekarang.

“Thanks john”.

“Tak masalah.” Katanya kemudian naik kepanggung.

“Teman-teman, sepuluh menit lagi, drama akan dimulai. Sekarang kita bersiap-siap dibelakang panggung. Kita akan mementaskan drama yang septakuler! Kita akan memeriahkan Halloween ini dengan pentas panggung yang mendebarkan! Ayo, kita mulai!” semua berteriak dan keluar mengikuti john.


Setelah MC selesai membacakan acara. Dan john membacakan prolognya, drama dimulai. Awalnya semua berjalan lancer. Stone, Jennifer, bahkan aku bermain sangat bagus. Tapi saat akan melakukan adegan terakhir, dimana kayouth akan terbunuh oleh Blady, kepalaku pusing sekali dan aku terjatuh tak sadarkan diri.

Gelap.

Aku tersadar dengan tangan kiri memegang pasak yang berlumuran darah. Bukan darah palsu, melainkan darah sungguhan. Dan didepanku terbujur tubuh stone. Dari jantungnya terkucur darah segar. Tirai panggung tertutup. Dan taka ada seorangpun selain aku dan stone disini.

“Jack….aku…..sudah lega…kini…”. Tubuhku gemetar kencang sekali. Kulempar pasak itu sekuat tenaga.

“Bukan kau Jack, bukan…..tapi…Antonio….uhuk! Dia….dia masuk….ketubuhmu dan…..dan membalaskan dendamnya….padaku……..

Terima kasih….Jack…..aku…lega….kau….mau…..berteman denganku…….itu hadiah yang sangat….berharga dan…..aku…uhuk….! aku…..akan pergi….menyusul……Tony….Thanks…and good bye, Jack!”.

Setelah mengucapkan itu kepalanya terkulai. Dia telah mati. Stone telah mati. Dan aku yang membunuhnya……

“Stooone!!!!!” aku menjerit sekeras-kerasnya sampai tenggorokanku rasanya putus dan aku tak sadarkan diri lagi.


Aku terbangun diruangan putih yang luas. Dad dan mom berdiri disisi kananku, disisi kiriku ada Lunar. Kulihat disudut ruangan Shane dan Jennifer duduk dengan gelisah.

Begitu sadar sepenuhnya, aku mulai panic. “Stone! Dimana stone! Bagaimana keadaannya? Dia selamat kan?”

mom kelihatan menahan tangisnya, “Jack, itu bukan salahmu. Saat itu kau terpeleset dan….banyak saksi yang melihatnya. Polisi membebaskanmu dan menganggap ini kasus kecelakaan. Bahkan keluarganya bisa menerima atas….atas kematiannya.”

“Jadi….stone….”

“Kau harus tabah nak. Memang berat, tapi dad yakin kau bisa mengatasinya”.

Tubuhku melemas dan ambruk. Air mataku mengalir tak terbendung, mataku terasa panas dan perih. Aku telah membunuhnya, aku telah membunuh seorang teman yang baru saja kudapatkan.

Shane dan Jennifer menghampiriku, “Jack, kau harus kuat. Aku juga sedih sekali, melihat dia terbunuh didepan mataku…”

“Tapi kenapa harus dia Shane?! Kenapa harus stone?! Dan aku, aku yang membunuhnya! Dengan tangan terkutuk ini! Aku membunuhnya, Shane!”. Aku mengamuk. Kucabut pipa infus dan kupukul-pukulkan tanganku pada besi yang ada dipinggir ranjang. Rasanya sakit, tapi hatiku lebih sakit. Sakit seperti ini belum ada apa-apanya.

“Tenang Jack, tenang!” seru dad berusaha menahan tubuhku. Aku kehabisan tenaga dan kuhempaskan tubuhku kepelukan dad.

“Kenapa….kenapa harus dia yang mati? Kenapa bukan aku saja?” rintihku.

“Antonio del Alonso! Berani-beraninya kau menipuku dan membunuh temanku! Tunggu saja, aku akan membalasmu!” teriakku ke udara kosong. Dad menidurkanku lagi. Mom masih menangis. Dan Jennifer, sepertinya dia berusaha sekuat tenaga menahan air matanya, dan memaksakan diri tersenyum padaku. Kupejamkan kedua mataku. Panas. Dan entah berapa menit kemudian aku sudah terlelap.


Kayouth

Dua hari aku tinggal dirumah sakit. Rasanya rindu sekali pada sekolah, rumah tuaku dan semuanya. Mulai hari ini dad akan mengantar aku dan Lunar kesekolah. Sebenarnya itu tak perlu mengingat dad sangat sibuk. Tapi ia memaksa dan aku kalah.

Semua berjalan seperti biasanya. Seakan beberapa hari yang lalu tidak terjadi apa-apa. Tetapi tetap saja ada yang kurang. Sejak aku berteman dengan stone, biasanya tiap istirahat aku, Shane dan dia pergi ketaman belakang. Kadang kami bercengkrama, kadang saling bercerita, atau makan siang bersama. Benar-benar menyenangkan saat itu. tapi sekarang, hanya aku dan Shane. Meski sesekali Jennifer ikut bergabung.


Pukul tujuh hari sudah mulai gelap. Derap keramaian kota mulai berkurang. Aku berjalan seharian ditepi jalan yang mulai sepi. Kulayangkan pandangan kelangit. Menatap miliaran bintang yang berkedip. Tiba-tiba ada sesuatu berkelebat diatas kepalaku. Sesaat kemudian terdengar erangan dari arah bayangan itu hilang. Aku segera berlari kearahnya. Seorang cowok dua puluh tahunan tersungkur diatas jalan.

“Hei, kau kenapa? Kau diserang orang? Apa kau baik-baik saja?” aku terus mendekatinya. Aku tersentak kaget ketika dia menoleh dan memperlihatkan wajahku. Dia….dia bukan manusia! Pupil matanya seperti ular. Dan taringnya yang runcing terlihat mengerikan. Dia vampir! Bagaimana ada vampir disini? Bukankah vampir itu hanya mitos? Tapi ketidakpercayaanku ketika makhluk itu melesat keangkasa dan menghilang dalam gelapnya malam. Spontan aku berlari. Aku harus sampai dirumah secepatnya. Memberitahu dad dan mom bukanlah jalan keluar yang baik. Jennifer, ah tidak mungkin. Shane, benar. Hanya dia yang dapat kuandalkan saat ini.

Kuraih telepon begitu sampai dirumah.

“Shane, kau harus percaya padaku. Baru saja aku melihat ada vampir disini. Vampir, Shane!”

“Tenang Jack, pelan-pelan. Memangnya kau tidak salah lihat?”

“Tidak mungkin! Aku jelas-jelas melihat taringnya dan dia terbang!”

“Baiklah, sepertinya ini serius. Aku akan kerumahmu sekarang.”

“Jangan! Terlalu berbahaya kalau kau keluar malam hari. Besok saja, disekolah, OK?”

“Baiklah, good night!”
“Good night!”

Aku langsung naik dan merebahkan diri diatas tempat tidur. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Ternyata vampir itu benar-benar ada. Ah, setelah hantu, kali ini vampir. Tentunya ini lebih berbahaya dan sulit diatasi.

***

“Apa kau yakin? Mungkin saja kau salah lihat, iya kan?”

“Tidak mungkin! Aku melihatnya sendiri dia terbang didepanku! Dan, penglihatanku masih normal, Shane!” Shane terdiam. Dia mengelus janggutnya yang berjenggot tipis.

“Mungkin…..aku pernah membaca buku tentang makhluk-makhluk unbelieveable, dan disana tertulis bahwa vampir adalah makhluk yang hidup abadi. Dia hidup dengan menghisap darah”. Paparnya yang lebih terdengar seperti menggumam.

“Oh, iya, satu cara mudah untuk menghindarinya adalah tidak mempersilahkan mereka masuk kedalam rumah. Karena vampir tidak bisa masuk tanpa diundang”. Tambahnya.

“Lalu, bagaimana kita menghentikan mereka, Shane? Kita tidak mungkin terus berdiam diri dirumah dan membiarkan mereka menghabisi penduduk kota kan?”

“Benar. Aku akan mencari buku tentang vampire lebih banyak lagi dan mencarikan solusi untuk membinasakan mereka. Kita tidak mungkin datang membawa pasak dan menyerangnya langsung kan?” Er…begini saja, kita bagi tugas. Aku akan mengumpulkan informasi diperpustakaan kota. Disana banyak terdapat arsip-arsip kuno. Dan ayahku bekerja disana, dia akan membantuku. Kau hubungi Jennifer, dan peringatkan penduduk kota. Jangan ada yang keluar malam hari. Gunakan cara apapun agar penduduk kota percaya”.

“Baik, aku akan segera menemui Jennifer!”

“Dan ingat, kembalilah sebelum senja”, kata Shane sebelum aku pergi.

“Don’t worry!”


Dalam perjalanan aku berusaha menghubungi Jennifer. Tapi berkali-kali mailbox. Dan sampai delapan kali baru tersambung.

“Hello, Jennifer? Ini aku Jack. Kenapa handphonemu mailbox terus? Kau dimana sekarang? Aku akan kesana. Ada hal penting yang harus kukatakan!”

Jennifer bilang dia ada dibalai kota. Ayahnya memang walikota beolevard. Aku memacu sepedaku sekencang-kencangnya, sampai rasanya kakiku mati rasa.

Tiba di balai kota dua puluh lima menit kemudian dengan kaki yang begitu lemas. Jennifer menyambutku diteras. Melihat wajahku merah padam, Jennifer cemas dan menanyakan apa yang terjadi.

“Ada apa Jack? Kau begitu cepat sampai dan kelihatan panic sekali? Apa yang terjadi?”

Aku mencoba menjelaskan apa yang terjadi tadi malam pada Jennifer. Seperti yang kuduga, dia tidak percaya. Tapi setelah aku terus menyakinkannya mati-matian, akhirnya dia percaya melihat wajah cemasku.

“Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang?”

“Kita harus memberitahu penduduk kota, bagaimanapun caranya. Ini siaga dua. Kita tidak boleh diam saja.”

Jennifer terlihat berpikir, keningnya berkerut dan wajahnya tegang. Beberapa detik kemudian wajahnya berubah ceria. Dan ia tersenyum. Sepertinya dia menemukan suatu cara.

“Ayo, ikut aku!”

“Kemana?”

“Sudah, ikut saja”.

Aku mengikuti Jennifer berjalan kearah timur balai kota. Lima menit kemudian kami sudah berdiri disebuah bangunan besar.

“Apa ini mil?”

“Ini satsiun TV Double B, milik dad”.

“Lalu, apa yang akan kita lakukan disini?”

Jennifer kelihatan gemas, “ Kita akan meminjam kantor berita disini dan mengumumkan hal ini pada seluruh penduduk kota”.

“Brilliant!”


Aku sedikit kaget ketika semua orang yang berpapasan dengan kami menyapa Jennifer dengan hormat. Aku akhirnya ingat tahu Jennifer adalah puteri walikota sekaligus pemilik stasiun TV ini.

“Marrick, aku pinjam studio ini sebentar. Tidak lebih dari dua puluh menit. Ada hal penting yang harus kami sampaikan kepada seluruh penduduk Boulevard, please!”

“Memangnya hal penting apa yang membuatmu memaksaku?”

“Ayolah, ini menyangkut hidup dan mati manusia, tolong ya”. Jennifer terus merajuk.

“Er….lima menit. Karena setelah ini akan ada siaran berita”.

Jennifer kelihatan girang sekali, “Thanks Marrick, I love you!” Pria berbadan tegap dengan rambut cepak keperakan yang diapanggil Marrick itu menghampiri asistennya dan mengatakan sesuatu.

“Ayo, Jennifer, lima menit saja”. Katanya kemudian. Jennifer langsung menyeretku kedepan kamera. Sepuluh detik kemudian kameraman meneriakkan instruksi pada kami untuk mulai.

“Ehem, ehem. Para penduduk Boulevard yang terhormat. Mohon maaf siaran berita kali ini ditunda beberapa saat, karena ada hal penting yang harus disampaikan.” Jennifer membuka acara.

“Temanku, Jack. Kemarin malam telah melihat vampire berkeliaran di boulevard, ini bukan tipuan, percayalah, saat ini kita ada dalam bahaya”. Kulihat semua yang ada distudio terkejut.

“Sekali lagi, berita ini bukan tipuan atau mengada-ada. Vampir-vampir itu benar-benar ada. Dan mereka akan terus menambah kekuatan. Saya mohon percayalah.”

“Cut!”

“Kalian ini bercanda ya? Bisa-bisa stasiun TV ini dituntut karena menyebarkan terror pada penduduk!”

“Kami tidak bohong, Jack melihat dengan matanya sendiri!”

“Tapi kau tidak melihatnya kan? Bisa saja anak ini berbohong adar bisa tampil di TV!” Sergah Marrick ketus.

Aku geram, hampir saja kupukul mukanya, “Aku tidak bohong! Tunggu saja. Aku akan membawa buktinya kedepan mukamu!”

“Silahkan saja.” Katanya sinis dan pergi meninggalkan kami.

“Tenang Jack. Mereka pasti percaya nanti.”

“Dan ketika mereka percaya, mereka sudahh mati!”
Kami segera keluar, tujuan berikutnya adalah perpustakaan kota. Aku harus menemui Shane.

“Baru jam sembilan, masih ada sebelas jam sebelum petang. Ayo kita harus bergegas keperpustakaan kota”.


Di perpustakaan kota, Shane sedang memeriksa setumpukan naskah tua yang sudah kelihatan usang dan lapuk.

“Dad, kenalkan ini teman-temanku. Jack Antonio De Carlo dan Jennifer Adam”.

“Brian Ritcher”.

“Nice to meet you!!”

“Nice to meet you!!”

“Jack, kami sudah mendapat cukup informasi setelah susah payah menerjemahkan manuskrip kuno ini!”

“Benarkah, apa itu Shane?”

“Seperti apa yang pernah kukatakan, vampire hidup abadi. Mereka tak bisa mati kecuali ditusuk jantungnya. Tubuhnya tak bisa dilukai oleh senjata apapun. Tetapi lemah jika kita serang dengan senjata yang terbuat dari perak. Mereka tidak akan bisa masuk kedalam rumah jika tidak di undang. Dan gerakan mereka sangat cepat, bagaikan angin. Dan tentunya, mereka bisa terbang. Vampire sangat takut dengan matahari, jadi tak mungkin berkeliaran di siang hari”.

“Mr. Ritcher, apakah kita bisa mengalahkan mereka?” tanyaku ragu.

“Tenang, Jack. Banyak cara mengalahkan mereka. Di manuskrip kuno yang ini tertulis pemimpin para vampire yang bernama kayouth telah hidup selama 750 tahun. Dia vampire yang sangat kuat. Tapi justru dengan mengalahkan kayouth maka kekuatan semua vampire akan musnah. Jadi target utama kita adalah kayouth. Tidak mudah mengalahkannya. Kita perlu kekuatan dan persiapan yang cukup.”

“Terlalu lama! Kita sudah siap ketika seluruh kota telah menjadi vampire!”

“Oh, aku lupa!” seru Shane. “Orang yang di gigit vampire, tidak akan langsung menjadi vampire. Perlu waktu tiga hari agar racunnya merubah orang tersebut menjadi vampire seratus persen.”

“Saat ini lebih baik kalian dirumah. Lindungi, jangan sampai vampire memasuki rumah kalian. Cepat!”

“Tapi….”

“Sudahlah, kalaupun kami tidak pulang, kami aman disini.” Potong Shane.

“Benar, orang tua kalian pasti khawatir. Aku akan menghubungi kalian jika ada perkembangan”. Sambung Mr. Ritcher.

“OK, kami akan pulang. Tolong kabari kami jika ada informasi baru”.

***

Masih pagi. Jadi kami memutuskan ke sky Ice. Tempat berski di Diamond Mall.

“Kau pandai juga bermain ski”.

Aku sedikit malu, “Hanya sedikit”.

Lelah bermain ski kami makan siang di Barber Lunch Café. Sekitar pukul tiga aku sudah dirumah. Tugasku sekarang adalah meyakinkan orang-orang dirumah. Ini cukup berat. Apalagi dad, dia orang yang rasionalis, memandang segalanya dengan logika.

Mom menghampiriku dengan cemas.

“Jack, benarkah apa yang kau katakana di TV tadi pagi?”

“Mom, tidak mungkin aku bercanda di hadapan ratusan ribu penduduk Boulevard kan? Ini benar mom, dan kita dalam bahaya sekarang!”
“vampire itu hanya ada dalam mitos, Jack.” Bantah dad, tenang tapi tegas. Dad tidak pernah marah atau membentak.

“Tapi aku tidak berbohong! Dan tidak pernah berbohong! Dad tahu itu.”

Aku segera menambahkan ketika dad akan membantah lagi, “Kalau dad tidak percaya, kita akan membuktikannya malam ini”.

“Terserah padamu. Tapi aku minta jangan memforsir tubuhmu. Kau harus jaga kesehatanmu. Belakangan kulihat kau jarang tidur, kau lebih sering melamun sendirian di balkon. Atau jalan-jalan dibawah terik matahari. Aku tidak mau kau sakit, Jack.”

Aku teringat stone, sejak kematiannya aku selalu murung dan hampir tidak pernah bicara.

“I know, I’m sorry.” Ucapku lirih. Aku naik ke kamar diiringi tatapan sedih dad dan mom.

***

Pukul sembilan malam, kami sekeluarga sedang menonton TV bersama diatas. Kami memang punya dua TV, satu diruang keluarga dan satu lagi diatas. Musim panas begini memang lebih enak nonton TV diatas, lebih sejuk.

“Jack, kamu jangan mengurung diri terus. Kamu harus ceria seperti dulu. Jack Antonoi De Carlo yang periang dan penuh semangat. Semua itu bukan salahmu Jack. Kau tidak perlu merasa berasalah seperti ini.”

“Ayahmu benar. Kau harus membuka diri. Kami sedih sekali melihatmu seperti itu”.

“Mom, aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Aku sadar, meski aku terus tenggelam dalam rasa bersalahku, semua tak akan kembali. Yang telah pergi takkan bisa ditarik kembali.”

“Benar, kau memang sudah dewasa. Aku bangga padamu”.

“Thanks”.


Duk, duk, duk!

“Jack, kau mendengar sesuatu?”
Duk, duk, duk!

“Benar, sepertinya……dari jendela”. Kataku.

Aku melangkah ke jendela dan membuka tirainya. Jantungku hampir copot saat melihat pemandangan diluar jendela. Seorang pria dengan jas hitam melayang dan menyeringai pada kami. Rambut hitamnya tersisir rapi. Seringainya benar-benar menakkutkan dan taringnya yang mencuat.

Dad berteriak, “Makhluk apa itu?!”

“Ini yang kumaksud dad. Dia vampire!”

Tiba-tiba dad mengambil senapan yang ada didinding.

“Jangan dad. Senjata itu tidak akan mempan. Dia bisa membunuhmu!”

“Let me ini”. Kata vampire itu dingin.

“Jangan. Dia takkan masuk jika tak kita undang!” larangku saat dad hendak membuka jendela dengan gusar.

“Please, dad. Percayalah. Biarkan dia disana dan kita selamat. Kita tak mungkin melawannya dengan senapan itu!”

Awalnya dad ragu, namun kemudian ia meletakkan kembali senapannya dan berdiri disampingku.

“What do you want?!” seru dad.

“Hei bocah. Kau, kau yang memberitahu penduduk bahwa aku berkeliaran dikota ini kan?” suaranya serak dan parau.

“Aku, kayouth, takkan membiarkanmu hidup. Saat ini kekuatanku belum pulih total. Tapi lihat saja nanti. Jika kekuatanku telah sempurna kembali, kau takkan bisa sembunyi dimanapun.” Kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

“Kita akan lihat siapa yang akan tertawa terakhir”. Ia melesat kedalam kegelapan dan menghilang. Kulihat dad masih terkejut atas kejadian tadi.

“It’s impossible! Unbelieveable!”
“Tapi dad lihat sendiri kan?”

Dad terdiam berpikir.

“Kau benar, semua itu terlalu nyata untuk dibantah. Lalu, kalau vampire itu tak bisa diserang dengan senjata apapun. Bagaimana kita menghentikannya?”

“Itu yang sedang dipecahkan oleh temanku, Shane dan ayahnya. Target kita hanya satu, Kayouth. Kalau dia kalah, maka semua vampire yang ada akan musnah. Sebenarnya kalau mampu aku akan keluar dan menusuk jantungnya. Tapi tidak mungkin, dia sangat kuat. Jadi kita perlu strategi”.

“Baik, sekarang lebih baik kalian tidur. Sudah malam.”

“Ingat, jangan persilahkan vampire itu masuk. Selama mereka diluar. Kita aman.” selaku.

“Good night”.

“Good night”.

Diatas tempat tidur aku terus memikirkan apa yang sudah aku alami dikota ini. Dari hantu Antonio sampai vampire. Benar-benar merepotkan.


Paginya disekolah heboh. Semua membicarakan vampire. Ada yang bilang tadi malam melihat vampire melesat didepan rumahnya. Ada yang bilang tetangganya digigit vampire. Tapi banyak pula yang tidak percaya dan membantah. Aku tidak perlu memikirkan mereka.

“Shane, bagaimana? Ada perkembangan?”
“Heeh, hanya ada satu cara. Jika kita ingin menghabisi kayouth kita harus mencari sarangnya dan membunuhnya langsung”. Suaranya tak bersemangat.

“Kalau begitu kita serbu sarangnya dan habisi dia”.

“Tidak semudah itu, Jack! Kita tidak tahu dimana sarangnya. Dan mungkin kita sudah menjadi vampire ketika bertemu dengannya.”

Shane diam, aku juga.

“Er…..Shane, adakah cara agar kita bisa menemukan sarangnya dan menyusup kesana diam-diam?”

“Entahlah, tapi sekarang dad masih berusaha menerjemahkan naskah kuno yang tersisa. Semoga saja kita mendapatkan petunjuk”.


Memburu Vampir

Dari sekolah aku tidak langsung pulang, karena aku akan ke perpustakaan bersama Shane. Hari ini cukup ramai daripada kemarin yang hari libur. Kami lengsung kebelakang, ke kantor Mr. Ritcher. Dia adalah kepala perpustakaan ini. Dia tahu semua isi perpustakaan ini.

“Selamat sore!”
“O, kalian, ayo cepat masuk”. Sambut Mr. Ritcher agak berbisik.

“Aku menemukan sesuatu yang menarik. Kemarilah!”

Mr. Ritcher menarik beberapa kertas yang sudah lapuk kearah kami.

“Disini tertulis, Kayouth bersarang di gua Stone hole di gunung Rockyland yang ada disisi utara Albania, yaitu 13 mil dari kota Boulevard ini. 300 tahun yang lalu, sebelum keruntuhan kerajaan Albania, Kayouth berhasil dikalahkan dan dua Stone hole disegel dengan batu besar. Sebenarnya saat itu dia belum sepenuhnya kalah, karena jika segel batu itu dihancurkan maka dia akan bengkit lagi. Dan sepertinya ada yang telah menghancurkan batu yang menutupi gua itu”.

“Lalu, bagaimana kita mengalahkannya?”

“Kita harus datang kegua Stone hole , dan bertarung dengannya.”

“Itu namanya kita masuk kandang singa! Kita akan habis disana!”

“Memang, tapi justru itu dia mudah dikalahkan disana. Karena didalam gua itu tersimpan Blue stone, sebuah pasak yang terbuat dari batu giok. Pasak itulah yang digunakan untuk mengalahkan Kayouth 300 tahun yang lalu.”

“Kapan kita kesana?”

“Besok aku akan menyiapkan keperluannya. Kita akan berangkat besok malam.”

“Malam hari?”

“Benar, pada malam hari vampire-vampire itu akan pergi mencari mangsa. Saat itulah, kita akan mencari Blue stone itu dan menyambut kedatangan Kayouth”.

Kedengarannya mengerikan, tapi semua harus dilakukan. Dan kalau bukan kami, siapa lagi? Hampir semua penduduk kota tidak percaya. Aku tak sabar lagi. Malam ini aku harus bertindak. Paling tidak mencegah mereka menggigit penduduk kota.

“Sudah hampir senja, lebih baik kita pulang. Perpustakaan tutp jam enam, sepuluh menit lagi.”

Setelah merapikan kertas-kertas kuno itu kami bergegas keluar.


Sampai dirumah aku segera mencari senapan panah milik dad yang dipasang didinding ruang tamu.

Usai makan malam aku diam-diam menyelinap ke garasi, mengambil sepeda dan segera melesat kekota. Jalanan cukup lengang. Agak merinding sebenarnya. Tapi aku harus tetap maju.

Seratus meter dari jalanan utama kota, ada beberapa polisi berjaga. Beberapa orang terlihat berlarian berlawanan arah denganku. Seorang polisi mencegatku.

“Hei nak, mau kemana kau? Jangan kesana, berbahaya!”

“Memangnya kenapa?”

Polisi itu terlihat ragu, “Kota diserbu Vampire! Belasan vampire berkeliaran ditengah-tengah kota dan membunuh penduduk!”

“Vampire?” pekikku.

Segera kupacu sepedaku secepat mungkin sambil terus menghindari polisi yang menghalang-halangi. Semakin dekat, terdengar keributan di kota. Ada yang menjerit, bunyi klakson dan suara benda keras dibanting.


Mulutku ternganga lebar saat melihat pemandangan didepanku. Sungguh mengerikan. Ratusan mobil berjejal tak beraturan. Sebagian hancur dengan posisi terbalik. Orang-orang berlarian kesegala arah. Mayat-mayat bergelimpangan dijalanan dengan kondisi yang mengerikan. Ada yang isi perutnya berceceran, ada yang kepalanya terpisah beberapa meter dari badannya. Beberapa vampire terlihat mengejar mangsanya dan beberapa lainnya melayang di udara. Aku langsung menyiapkan panahku dan membidik vampire pria berambut gondrong yang mengejar seorang wanita tiga puluhan. Dan jleb! Panahku tepat mengenai jantungnya. Vampire itu menggeliat kesakitan dan ambruk. Satu tumbang. Sekarang aku mengincar vampire yang sedang mengejar sebuah BMW yang melaju kencang. Dan mobil itu mengarah padaku. Jleb! Sekali lagi kena. Vampire itu langsung jatuh diatas mobil dengan bunyi ‘brak’ yang keras.

Aku terus menembakkan panahku dan menumbangkan beberapa vampire. Sampai akhirnya aku berhadapan dengan Kayouth yang melayang diatas mobil yang berserakan. Dia tersenyum dengan tangan bersedakap. Jubahnya berkibar-kibar oleh angin malam yang semakin dingin.

“Kau datang juga, bocah.” Katanya dingin.

“Benar, aku datang dan kau akan tamat!”

Kutembakkan panahku tepat kejantungnya. Tubuhnya terdorong beberapa senti tapi tidak jatuh. Kayouth menyeringai dan mencabut anak panah dari jantungnya.

“Benda seperti ini takkan bisa melukaiku, apalagi membunuhku.”

Anak panahku tinggal satu. Jika ini gagal, habislah aku. Kubidik lagi jantungnya dan kutembakkan anak panah terakhirku. Tapi tiba-tiba Kayouth menghilang. Sedetik kemudian dia sudah berdiri dibelakangku. Aku langsung memutar tubuhku dan mundur beberapa langkah. Kakiku tersandung sesuatu dan aku terjatuh. Aku benar-benar terjepit. Kayouth mendekat dan aku tak bisa menggerakkan tubuhku. Dia sudah sangat dekat denganku ketika terdengar letupan keras sekali. Tubuh Kayouth terpental kebelakang dan dia jatuh. Bahu kirinya mengucurkan darah. Sepertinya ada yang menembaknya dengan senapan tadi. Tapi dia kan kebal terhadap senjata apapun?! Aku menengok kebelakang dan melihat Mr. Ritcher membawa shotgun, disampingnya Shane memegang senapan panah.

Mr. Ritcher bersiap menembak lagi dan ‘Duar!!!!!’

Tubuh Kayouth terdorong bebarapa meter. Aku segera menghampiri Shane dan Mr. Ritcher.

“Ayahmu meneleponku. Dia bilang kau menghilang membawa senapan panah setelah makan malam.” Kata Shane.

“Benar, aku sudah menduga kau akan mencari vampire . saat melihat keributan dikota ini, kami segera kesini”.

“Thanks, and sorry!”

Kayouth telah berdiri lagi. Bahu kiri dan dad sebelah kanannya terluka parah mengucurkan banyak darah.

“Aku akan membalas ini!” Teriaknya parau. Kemudian dia melesat dan menghilang.


“Kau hebat juga. Menghabisi belasan vampire sendirian.”

Aku merasakan mukaku memanas, “Anda bisa saja Mr. Ritcher. O,ya aku mau tanya, kenapa Kayouth bisa terluka tadi?”

“Oh, aku menggunakan peluru perak. Aku yakin lukanya takkan sembuh dengan mudah”.

“Aku sudah menduganya”.

Shane meletakkan senapan panahnya, “Sekarang lebih baik kau pulang, besok malam kita serang sarang vampire itu.”

“Kenapa tidak sekarang saja?” potongku.

“Tidak bisa! Saat ini Kayouth mungkin sedang berada disarangnya. Kita takkan bisa mengambil Blue stone kalau dia disana.” Sergah Shane.

Aku terdiam.

Benar, saat ini Kayouth pasti berada disarangnya. Tidak mungkin kami kesana. Itu sama saja dengan bunuh diri. Aku pamit dan pulang dengan gontai.

Dad sudah menunggu diruang keluarga dengan cemas.

“Jack, tadi…” Dad urung mengatakan sesuatu. Mungkin karena melihat wajahku yang lesu dan terlihat sedih. Aku tak tahan melihat pemandangan dikota tadi. Benar-benar mengerikan. Melihat mayat-mayat itu, aku jadi teringat Stone yang mati bersimbah darah ditanganku. Mungkin vampire-vampire itu kejam, tapi aku juga tak kalah kejam saat membunuh Stone. Aku masih tak bisa memaafkan diriku atas kematian Stone.

Tapi aku masih bisa berbuat sesuatu. Dengan mengalahkan Kayouth, keadaan akan kembali seperti semula. Semua ditentukan besok malam.

Lelah.

Kurebahkan tubuhku diatas tempat tidur dan memandang langit-langit. Aku tertawa sendiri mengingat bagaimana aku dan stone bisa berteman. Justru hantu yang membuatnya terbunuh yang telah menjadikan kami sahabat.

Perlahan kupejamkan mata. Meninggalkan malam yang dingin menuju alam mimpi yang sejuk dan damai.


Sudah pagi.

Terdengar alunan musik dari grup band Mix` n Max dari kamar Lunar. Dibawah, mom sudah memanggil-manggil untuk sarapan. Aku turun dan melihat mom dan dad serta Lunar sedang sarapan.

“Lunar, DVDmu masih menyala”.

“Sorry, aku sebentar lagi selesai, kok!”

Lunar meminum susunya dan lari keatas.

Usai sarapan aku langsung kekota. Tepatnya ke perpustakaan. Mr. Ritcher sudah tiba lebih dulu diperpustakaan.

“Hai Jack, kau tidak ke sekolah?” sapanya ramah.

“Aku tak bisa konsentrasi belajar saat ini. Lebih baik aku disini dan mempersiapkan diri untuk nanti malam, kan?”

Mr. Ritcher mengangkat bahu, “Terserah padamu”.


Aku seharian di perpustakaan dengan membaca manuskrip kuno yang sudah diterjemahkan oleh Mr. Ritcher. Banyak sekali, dan semuanya menceritakan vampire dan Kayouth.

“Mr. Ritcher, apakah anda tahu siapa yang menulis semua manuskrip kuno ini?”

“Er….manuskrip ini ditulis 300 tahun yang lalu setelah Kayouth dikalahkan dan disegel didalam gua Stone hole. Kemudian disimpan didalam ruang rahasia perpustakaan kerajaan. Saat itu kerajaan Albania masih berdiri. Setelah 100 tahun kemudian berubah menjadi Negara Demokrasi yaitu, Caldera ini, perpustakaan kerajaan diubah menjadi perpustakaan umu.

Inilah perpustakaan itu, perpustakaan Lock Day. Aku berhasil menemukan ruang rahasia yang menyimpan manuskrip itu lima tahun yang lalu. Dan selesai menerjemahkan isinya setahun yang lalu”.

“O……ternyata kota ini termasuk kota penting di Albania, ya?” gumamku.

“Benar, kota ini berada tepat diutara Albania yang dulunya merupakan pusat pemerintahan kerajaan Albania.”

“Aku tahu, dulu pernah mendengar ada sebuah kota kecil di utara Albania yang menyimpan banyak sejarah Albania. Albania itu…..kota kelahiranku, sebelum keluargaku pindah ke Northtown”. Terdengar suara ketukan pintu.

“Masuk!”

Shane masuk dengan wajah kesal.

“O, sudah kuduga, kau pasti disini. Kenapa kau absent seharian ini?!”

“Er…aku…pikiranku sedang kacau dan….dan aku juga….malas”.

“Kau seharian menghilang dan aku yang pusing mencarikan alasan atas ketidakhadiranmu pada guru!” serunya.

“Maaf aku……”

“Sudahlah, Shane. Kau jangan marah begitu. Dia memang sedang kacau karena kejadian semalam. Absent sehari tidak apa-apa kan?” kata Mr. Ritcher bijak.


Pukul empat lebih sepuluh, kami mempersiapkan keperluan untuk menyerbu sarang vampire. Aku dan Shane membawa belati da pasak perak serta senapan panah yang anak panahnya bermata perak. Sedangkan Mr. Ritcher membawa belati, pedang perak dan Shotgun.

“Darimana kalian mendapatkan semua senjata ini?”

“Musium. Setelah membujuk petugasnya sekuat tenaga, akhirnya kami boleh membawa ini semua.”

“OK, semua sudah siap. Perjalanan kita akan memakan waktu satu setengah jam. Lebih baik kita bergegas, ayo!”

Mobil Nissan biru metalik Mr. Ritcher sudah siap di tempat parkir. Mr. Ritcher siap ditempat parkir. Mr. Ritcher segera memacu mobil dengan kecepatan penuh. Aku benar-benar tegang sampai tubuhku gemetaran dan keluar keringat dingin.

“Jack, jangan tegang begitu. Aku yakin semua pasti kita pasti berhasil. Lagipula Kayouth sedang terluka, dia pasti akan mudah diserang. Kita kalahkan vampire-vampire itu!”


Satu setengah jam terasa begitu cepat. Kami sudah sampai di gunung Rockyland.

“Kita harus naik. Sekitar dua ratus meter. Aku akan menyembuyikan mobil ini dibawah semak. Setelah gelap, kita naik.” Papar Mr. Ritcher.

Setelah mobil disembunyikan, kami menunggu petang dibawah pohon Akasia yang besar. Baru jam tujuh. Masih sejam lagi. Menunggu memang pekerjaan yang paling membosankan. Satu jam terasa lama sekali. Kami tak bicara sepatah katapun. Akhirnya malam turun. Dilangit terlihat bayangan berkelebat. Ada sekitar delapan atau sembilan.

“Aman, Kayouth sudah pergi. Berarti sarangnya kosong. Ayo kita naik”.

Jalan ke gua Stonehole benar-benar buruk. Batu-batu tajam mencuat disana-sini dan membuat kakiku sakit sekali. Apalagi dengan penerangan yang redup, perjalanan semakin sulit. Lima belas menit kemudian kami sampai di mulut gua. Waktu yang lama sekali padahal hanya menempuh perjalanan dua ratus meter yang normalnya hanya butuh empat menit.

“Kita masuk. Secepat mungkin menemukan pasaknya. Karena begitu kita masuk, Kayouth akan tahu ada yang menyusup kesarangnya. Kita hanya punya tujuh menit. Dalam tujuh menit kita harus menemukan Blue stone yang ada diatas singgasana Kayouth. Singgasana itu ada diujung gua ini. Dan gua ini panjangnya sekitar 150 meter. Jadi kita harus berlari. Tapi hati-hati, karena perjalanan kita tidak mudah.”

“Mr. Ritcher, bagaimana jika kita terlambat mengambil pasak itu?”

“Tak ada pilihan lain. Dua orang harus melawan vampire dan yang seorang mengambil pasaknya”.

“OK, diskusi selesei. Kita masuk?” sela Shane.

“Tentu!”

Kami sudah menyalakan lampu yang terpasang di tepid an bersiap-siap setengah meter dari mulut gua.

“Pada hitungan ketiga, segera lari. Waktu kita tujuh menit. Satu…Dua…Tiga…!”

Aku segera berlari sekencang-kencangnya.


Entah sudah berapa menit aku berlari. Aku terus berlari sekuat tenaga tanpa menoleh kanan ataupun kiri. Sampai kakiku mati rasa. Aku berhenti setelah melihat singgasana yang besar dan usang dengan hiasan tengkorak dimana-mana. Dibagian paling atas, tertancap pasak berwarna biru. Itu Blue stone. Aku segera naik dan mengambilnya. Tepat saat itu Shane dan Mr. Ritcher sampai. Nafas mereka tersengal. Aku turun dan menghampiri mereka. Kami tersentak ketika tiba-tiba suara parau dari arah mulut gua.

“Rupanya kalian yang berani masuk ke istanaku.”

“Kayouth!” pekikku tertahan.

Terdengar langkah kaki mendekat. Banyak sekali. Apalagi didalam gua. Suaranya menggema dan terdengar begitu dekat. Tujuh, delapan, sembilan vampire sudah berdiri dihadapan kami. Aku siap denga Blue stone ditangan kananku dan belati perak ditangan kiriku. Shane memegang belati dan pasak perak ditangan kanan dan kirinya. Dan Mr. Ritcher sudah mengeluarkan pedangnya dan tangan kirinya mencengkeram belati perak.

“Anak-anak. Lakukan sekuat tenaga. Jangan ragu. Tuhan bersama kita”.

Tiba-tiba vampire itu menyebar dan menyerang kami dari tiga arah yang berbeda. Seorang vampire mencoba mencakarku, aku menghindar dan menebaskan belati ketangannya. Dia mengerang kesakitan dan mundur.

Kini giliranku menyerang. Seorang vampire wanita berkelit dari tebasanku. Aku maju dan menusukkan Bluestone tepat kejantungnya. Dia menjerit keras sekali dan ambruk. Dibelakangku aku mendengar jeritan lagi, mungkin Shane atau Mr. Ritcher berhasil menumbangkan seorang vampire. Aku terus menghindar dan menyerang. Beberapa kali mendengar jeritan kematian vampire. Sampai akhirnya aku berhadapan dengan Kayouth.

“Kau takkan bisa mengalahkanku, bocah.”

“Kita lihat saja nanti!”

Aku maju dan menebaskan belatiku. Tapi yang kutebas hanya udara kosong karena tiba-tiba Kayouth menghilang dan muncul dibelakangku. Sedetik kemudian aku merasakan pukulan yang sangat keras di dadaku dan tubuhku terpental membentur dinding gua. Tulang-tulangku rasanya remuk. Sakit sekali. Belum sempat aku berdiri, Kayouth sudah siap dihadapanku. Dia menarik bahuku dan siap menggigit leherku. Aku tak bisa mengangkat tanganku karena bahuku sakit sekali.

Tuhan apakah selesai sampai disini?

Tiba-tiba Kayouth mengerang kesakitan dan melepaskan cengkeramannya. Ternyata Mr. Ritcher menebaskan pedangnya ke punggung Kayouth. Kayouth mengerang lagi ketika Mr. Ritcher menusukkan pedangnya menembus perut Kayouth.

“Jack, sekarang! Tusuk jantungnya dengan Bluestone!”

Kukumpulkan sisa tenagaku dan kutusukkan Bluestone tepat kejantungnya. Kayouth menjerit lagi, keras sekali. Jeritannya menggema di dalam gua yang pengap ini. Tubuhnya menggeliat dan jatuh. Ia terus menjerit dan menggeliat kesakitan.

Dan tiba-tiba terjadi hal yang benar-benar aneh. Tubuh Kayouth perlahan berubah menjadi debu.

Sunyi. Aku berhasil! Kayouth terlah mati dan hilang menjadi debu. Aku berhasil!

“Shane, kita menang! Kita berhasil mengalahkannya!”

“Benar, semua sudah selesai”.

“Ayo, kita pulang”.

Rasa sakit diseluruh tubuhku telah sirna oleh bahagia yang membuncah karena telah berhasil mengalahkan Kayouth. Baru melangkah beberapa meter, tiba-tiba gua bergetar. Semakin lama getarannya semakin kencang.

“Gawat! Gua ini akan runtuh! Ayo cepat, lari kepintu keluar!” tanpa piker panjang aku segera berlari sekuat tenaga. Meski dadaku sakit dan sesak, tak kupedilikan.

Batu-batu besar mulai berjatuhan dari langit-langit gua. Hampir saja kepalaku tertimpa bongkahan batu berdiamter tiga meteran. Tepat setelah kami sampai diluar gua. Mulut gua tertutup oleh bongkahan batu yang terus berjatuhan.


Akhir Segalanya

Aku tiba dirumah sekitar pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. Lampu masih menyala semua. Pintu depan tidak dikunci. Bahkan terbuka beberapa senti. Aku masuk. Kudapati ruang tamu sepi. Ruang keluargapun kosong. Terdengar suara TV diatas. Mungkin mereka sedang nonton TV, aku naik. Mulutku hampir muntah melihat pemandangan yang kusaksikan. Air mataku meleleh. Didepan jendela yang terbuka, dad terkapar dengan tangan memegang senapan. Matanya melotot, mulutnya menganga lebar dan perutnya robek memperlihatkan isinya yang berceceran dilantai. Disamping telepon, tubuh Lunar terlungkup. Kepalanya hampir putus. Tangan kanannya masih memegang telepon. Mom terbaring didekat tangga. Ada bekas gigitan dilehernya. Dan dadanya hancur dicabik-cabik.

Tubuhku melemas dan gemetar hebat. Aku terjatuh diatas lututku. Air mataku terus mengalir. Rasanya panas dan perih.

“Mooooooooom!!!!”, aku menjerit sekuat tenaga sampai rasanya pita suaraku putus. Aku tak percaya apa yang ada dihadapanku kini. Semua keluargaku telah mati.

“Hei, kenapa kau menangis?” aku tercengang melihat siapa yang tiba-tiba muncul dihadapanku.

“Buat apa kau datang, ha?! Setelah merenggut temanku, sekarang kau menghabisi keluargaku! Bunuh saja aku sekalian!”

Sosok itu malah tersenyum mendekatiku.

“Bukan aku. Kayouth. Aku tak bisa berbuat apa-apa…”. Suaranya terdengar sedih. Tapi aku jadi semakin marah padanya.

“Pergi sana! Jangan ganggu hidupku lagi! Kau telah menghancurkan hidupku! Pergi!”

Wajahnya terlihat sedih, “Maaf aku telah membunuh stone. Tapi kali ini bukan aku. Kayouth yang melakukannya. Aku tak bisa menghentikannya. Aku tak bisa. Maafkan aku,” kemudian dia mundur kearah balkon.

Aku berlari kearahnya. Mencoba memukulnya. Tapi dia menghilang dan aku terjatuh. Aku melihat kilatan cahaya sebelum kehilangan kesadaran.


Sepertinya ada orang dikanan-kiriku. Tapi aku tak bisa melihat apa-apa. Gelap. Bahkan aku tak bisa merasakan tubuhku. Samara-samar terdengar suara orang berbicara. Kedengarannya sedang membicarakan aku. Ada yang menangis. Perlahan kurasakan cahaya menyilaukan memasuki kornea mataku. Entah dimana, kau tak tahu. Mataku masih belum bisa melihat dengan jelas.

“Dia sadar, mom dia sadar!” lihatlah!”, sepertinya suara Lunar. Tapi bukankah Lunar sudah mati? Dan aku sendiri, apakah aku masih hidup atau sudah mati? Entah kenapa air mataku mengalir. Ada yang menyentuh pipiku. Kucoba membuka kelopak mataku. Berat sekali.

Aku melihat mom dan Lunar disamping kananku. Dad berdiri disisi kiriku. Bagaimana mungkin mereka berdiri disampingku? Bukankah mereka sudah mati dengan kondisi mengenaskan? Atau aku juga sudah mati menyusul mereka? Ini dimana?

Mom menyeka air mataku. Ia menangis. Dad tidak setegar biasanya. Ia terlihat sedih sekali. Dengan susah payah aku bicara.

“Ini…..dimana? dan kalian….”

“Kau jangan banyak bicara dulu. Kau baru sadar dari koma panjangmu. Kita sedang dirumah sakit, sayang.” Kata mom disela isak tangisnya.

“Benar, Jack. Kami benar-benar khawatir.” Sambung Lunar.

“Kau tidak sadarkan diri lebih dari sebulan lamanya.”

“Sebulan? Sejak….kapan?”

“malam itu, saat kau mementaskan drama. Tiba-tba kau mengamuk dan melayang diatas panggung. Setelah berbicara panjang lebar. Kau pingsan dan baru sadar saat ini.”

Stone, Shane dan Jennifer, yang rupanya sudah ada disini sejak tadi menghampiriku.

“Benar, saat itu aku melihat Antonio del Alonso yang bicara padaku. Bukan dirimu. Mungkin dia merasuk ketubuhmu dan bicara padaku. “ aku stone.

Stone masih hidup, dan dia bicara padaku!

Jadi, semua kejadian sejak kematian stone diatas panggung, vampire dan keluargaku yang dibantai, semua hanya mimpi? Berarti hantu Antonio yang menangis dikamarku dan mengatakan akan muncul terakhir kali pada malam Halloween itu benar. Hanya saja dia menggunakan tubuhku untuk bertemu dan bicara dengan stone. Aku menangis lagi. Aku benar-benar bahagia. Stone masih hidup dan keluargaku tidak dibanytai oleh vampire.

“Kau pingsan lama sekali. Aku sampai takut kau tak akan bangun lagi”.

Melihat Shane, aku teringat Mr. Ritcher, ayahnya.

“Shane, apakah…ayahmu, bekerja di perpustakaan Lockday?”

“Benar, bagaimana kau bisa tahu? Kau kan belum pernah bertemu dengannya?”

“Dalam mimpiku, aku bertemu dan bicara banyak dengannya”.

“O ya, Jack. Antonio minta maaf padamu karena telah menyusahkanmu bahkan melukaimu. Dia benar-benar minta maaf.”

Saat Stone mengucapkan itu, aku melihat bayangan Antonio melayang didepanku. Dia tersenyum dan melambaikan tangan padaku. Aku membalas senyumannya dan mengangkat telapak tanganku.

“Kenapa, Jack?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya senang semua selamat.”

Sebelum menghilang, Antonio membisikkan terima kasih padaku dan kubalas dengan anggukan pelan kepalaku. Aku ingin segera sembuh dan bermain bersama Shane dan stone lagi. Ini adalah hari terindah dalam hidupku. Antonio, thank you.


Dua hari sejak aku tersadar dari koma. Aku sudah benar-benar sehat sekarang. Dokter bilang aku sudah boleh pulang hari ini. Sebenarnya aku ingin pulang siang ini juga. Tapi mom dan dad melarang. Lunar bilang mereka sedang menyiapkan kejutan untukku.

Akhirnya, pukul sembilan setelah membereskan barang-barang aku pulang. Shane, Jennifer dan stone juga ikut menjemputku. Aku benar-benar bahagia setelah semua yang aku alami. Meski hanya dialam mimpi.

“Jack, kau kelihatan senang sekali.” Ujar dad.

“Ya, aku sudah mengalami masa terburukku selama tak sadarkan diri. Aku merasa sangat bahagia!”

“Kau benar, selama kau pingsan. Aku tak tahan melihat kau mengigau. Kadang seperti ketakutan, kadang kau marah-marah, aku sampai menangis mndengarnya.” Sahut Lunar. Aku hanya tersenyum senang. Memandang bintang yang berkelip menyapaku riang.


Sepuluh menit sebelum sampai dirumah, aku melihat seseorang tertelungkup ditrotoar jalan. Aku berteriak agar dad berhenti.

“Ada apa, Jack?”

“Disana ada orang pingsan. Kita harus memeriksanya!” teriakku menunjuk kebelakang.

Kubuka pintu mobil dan berlari menghampiri orang itu. seseorang pria berambut hitam panjang memakai jaket dan jeans hitam tertelungkup diatas trotoar.

“Hei, kau kenapa? Apa kau baik-baik saja? Apa kau diserang seseorang? Hei jawablah!”

Tidak ada jawaban. Aku mendekatinya dan menggoyang bahunya.

“Kau baik-baik saja? Ada yang bisa kubantu?”

Dia bangkit. Aku lega melihatnya. Lalu dia mengangkat wajahnya dan menoleh padaku. Jantungku benar-benar hampir lepas melihat wajahnya. Matanya menyala kuning. Pupil matanya berupa celah tipis bagai pupil ular. Mulutnya menetes darah yang merah dan kental. Taringnya panjang dan runcing. Aku mundur beberapa langkah menyadari makhluk apa yang ada dihadapanku.

Dia vampire!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.